Bukan Cuma Anak-anak, Orang Dewasa Ternyata Bisa Kena Campak! Ini Penyebab Utamanya

Dinas Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat di tengah meningkatnya kasus campak

Muhammad Yunus
Selasa, 14 April 2026 | 13:46 WIB
Bukan Cuma Anak-anak, Orang Dewasa Ternyata Bisa Kena Campak! Ini Penyebab Utamanya
Ilustrasi penyakit campak. (Freepik)
Baca 10 detik
  • Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan melaporkan peningkatan kasus campak dengan 169 pasien terkonfirmasi positif hingga April 2026.
  • Virus campak kini berisiko tinggi menginfeksi orang dewasa dan anak-anak yang memiliki sistem imun tubuh rendah.
  • Pemerintah daerah menggencarkan program imunisasi gratis serta skrining lapangan untuk menekan penyebaran virus di masyarakat.

SuaraSulsel.id - Dinas Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat di tengah meningkatnya kasus campak di Sulawesi Selatan.

Selain menyerang bayi dan anak-anak, penyakit menular ini juga dapat dengan mudah menjangkiti orang dewasa yang memiliki daya tahan tubuh lemah, termasuk akibat kebiasaan sering begadang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba, dr. Muhammad Amrullah mengatakan campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular dan berisiko menyerang siapa saja dengan sistem imun rendah.

"Campak ini tidak hanya menyerang bayi yang belum diimunisasi atau anak yang imunisasinya belum lengkap, tetapi juga orang dewasa dengan imunitas rendah, seperti penderita HIV/AIDS atau mereka yang memiliki pola hidup tidak sehat," ujar Amrullah, Selasa, 14 April 2026.

Baca Juga:Waspada! 7 Daerah di Sulsel Tetapkan Status KLB Campak, Apa yang Harus Dilakukan?

Ia menjelaskan pola hidup tidak sehat yang dimaksud meliputi kebiasaan sering begadang, kurang istirahat, minim konsumsi air putih, serta pola makan yang tidak teratur.

Kondisi tersebut dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga virus campak lebih mudah menginfeksi.

"Kurang tidur, jarang minum air putih, dan makan tidak teratur bisa membuat imunitas turun. Ketika daya tahan tubuh lemah, virus campak akan lebih mudah masuk," jelasnya.

Menurut Amrullah, campak bukan penyakit ringan. Infeksi ini dapat menimbulkan gejala serius yang berdampak pada penurunan kondisi tubuh secara signifikan, bahkan berpotensi menyebabkan komplikasi hingga kematian jika tidak ditangani dengan baik.

Meski demikian, ia memastikan Kabupaten Bulukumba hingga saat ini belum ditetapkan sebagai wilayah Kejadian Luar Biasa (KLB) campak.

Baca Juga:Ditolak KUA, Ayah Tetap Nikahkan Anak di Bawah Umur dengan Pria 71 Tahun di Luwu

Hal tersebut karena penyebaran kasus masih tersebar di beberapa wilayah dan belum memenuhi kriteria KLB.

"Penyebarannya tidak terpusat di satu titik, sehingga belum masuk kategori KLB," katanya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Bulukumba, jumlah kasus suspek campak tercatat sebanyak 378 kasus. Namun, belum seluruhnya dapat dipastikan karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

"Hasil laboratorium yang sudah keluar sebanyak 45 sampel, dengan 37 dinyatakan positif dan sembilan negatif. Sisanya masih dalam proses pemeriksaan," ungkap Amrullah.

Ia mengakui, pada tahap awal sempat terjadi keterlambatan pemeriksaan akibat keterbatasan reagen di laboratorium, sehingga sejumlah sampel belum dapat segera diuji.

Untuk menekan penyebaran, Dinas Kesehatan Bulukumba terus menggencarkan skrining di lapangan serta memperluas cakupan imunisasi campak dan rubella. Upaya ini dilakukan hingga ke tingkat dusun untuk memastikan seluruh anak mendapatkan perlindungan.

"Ketika tren kasus meningkat, kami langsung meningkatkan layanan imunisasi. Tim turun langsung ke masyarakat untuk menjangkau wilayah-wilayah yang belum terlayani secara optimal," jelasnya.

Amrullah juga mengingatkan penularan campak terjadi melalui percikan droplet, seperti saat penderita batuk atau bersin. Karena itu, anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi sangat rentan tertular.

"Kalau anak belum pernah imunisasi, tentu belum memiliki kekebalan. Saat virus masuk, tubuh tidak mampu melawan," ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, dr. Evi Mustikawati Arifin mengungkapkan penyebaran campak saat ini terjadi di sejumlah daerah. Di Sulsel, ada empat wilayah telah berstatus Kejadian Luar Biasa.

"Empat daerah yang sudah ditetapkan sebagai KLB adalah Wajo, Sinjai, Luwu, dan Makassar. Sementara Bulukumba, Jeneponto, dan Luwu Timur juga mencatat adanya kasus (belum KLB)," ujarnya, Selasa, 14 April 2026.

Secara keseluruhan, jumlah kasus suspek campak di Sulawesi Selatan mencapai sekitar 1.304 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 169 kasus telah terkonfirmasi positif berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.

Dalam upaya penanganan, pemerintah daerah bersama Kementerian Kesehatan telah menerbitkan surat edaran terkait kewaspadaan dan penanggulangan KLB campak.

Selain itu, imunisasi tambahan juga terus dilakukan melalui program outbreak response immunization di wilayah terdampak.

"Kami melakukan imunisasi tambahan bagi anak-anak yang belum lengkap, khususnya di daerah KLB dan wilayah sekitarnya," ucapnya.

Kata Evi, layanan imunisasi campak tersedia secara gratis di seluruh puskesmas, sehingga masyarakat diminta untuk tidak ragu memanfaatkan fasilitas tersebut.

"Kami mengimbau orang tua untuk memastikan anak-anaknya mendapatkan imunisasi lengkap. Ini adalah langkah paling efektif untuk mencegah campak," tegasnya.

Selain imunisasi, masyarakat juga diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker saat mengalami gejala, serta menghindari kontak dengan penderita.

Evi juga mengingatkan agar anak yang sedang sakit tidak dipaksakan beraktivitas di luar rumah, termasuk bersekolah guna mencegah penularan lebih luas.

"Jika anak mengalami gejala seperti batuk, pilek, dan mata merah, segera periksakan ke fasilitas kesehatan," imbaunya.

Hingga saat ini, Dinas Kesehatan memastikan penanganan kasus campak di Sulawesi Selatan masih dapat ditangani dengan baik tanpa perlu penambahan tenaga kesehatan maupun posko khusus.

Namun demikian, kewaspadaan masyarakat tetap menjadi kunci utama untuk menekan penyebaran penyakit ini, terutama melalui imunisasi dan penerapan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini