- Kemunculan hiu di pesisir Makassar memicu kepanikan warga; peneliti sebut ini karena Selat Makassar jalur migrasi biota laut.
- Selat Makassar adalah koridor vital bagi biota laut besar seperti paus dan hiu untuk bermigrasi mencari makan dan berkembang biak.
- Aktivitas manusia dan perubahan iklim, seperti peningkatan plankton, juga memengaruhi perubahan jalur serta kedekatan hiu ke pesisir.
SuaraSulsel.id - Kemunculan kawanan hiu di perairan Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mendadak viral di media sosial.
Dalam video yang beredar luas, terlihat beberapa sirip hiu muncul ke permukaan laut di kawasan pesisir.
Rekaman tersebut sontak memicu kepanikan warga, terutama mereka yang sehari-hari beraktivitas di laut seperti nelayan, pemancing, hingga warga yang kerap berkunjung ke pantai.
Namun di balik kepanikan itu, para peneliti justru menilai fenomena tersebut tidak sepenuhnya mengejutkan.
Baca Juga:Bukan Hoaks! Inilah Sosok 'Monster Laut' Tertangkap Kamera di Makassar
Peneliti Pesisir dan Perikanan di Australia–Indonesia Centre dan JaSuDa, Zulung Zach Walyandra, menjelaskan bahwa Selat Makassar sejak lama dikenal sebagai salah satu jalur migrasi penting bagi berbagai biota laut besar.
Menurutnya, secara geografis Selat Makassar merupakan koridor utama yang menghubungkan dua samudera besar, yakni Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Jalur ini kerap dilalui berbagai spesies laut saat bermigrasi.
“Selat Makassar ibarat jalan tol bagi biota laut,” jelas Zulung kepada Suara.com, Selasa 24 Maret 2026
Jalur Favorit Migrasi Biota Laut
Ia menjelaskan, kedalaman laut di Selat Makassar serta topografi bawah laut yang relatif terbuka tanpa banyak hambatan seperti pulau besar menjadikan wilayah ini sangat ideal bagi pergerakan biota laut berukuran besar.
Baca Juga:Hangatnya Silaturahmi Idulfitri: Appi-Danny Bahas Sinergi Pembangunan Makassar
Berbagai spesies seperti paus, hiu, lumba-lumba hingga ikan pelagis besar seperti tuna dan marlin memanfaatkan jalur ini untuk berpindah dari satu wilayah perairan ke wilayah lainnya.
Selain itu, ekosistem pesisir seperti terumbu karang, padang lamun, serta pulau-pulau kecil di sepanjang Selat Makassar juga memainkan peran penting dalam perjalanan migrasi tersebut.
Zulung mengibaratkan kawasan pesisir ini seperti “rest area” bagi biota laut.
“Biota yang bermigrasi biasanya singgah di perairan dangkal untuk mencari makan, terutama ikan-ikan kecil yang hidup di terumbu karang dan padang lamun,” katanya.
Perairan Hangat Jadi Tempat Berkembang Biak
Faktor lain yang membuat kawasan ini ramai dilintasi biota laut adalah kondisi perairannya yang hangat karena berada di wilayah tropis.
Suhu laut yang relatif stabil membuat sejumlah spesies menjadikan kawasan ini sebagai lokasi berkembang biak, termasuk untuk bertelur maupun membesarkan anaknya.
Hal tersebut, kata Zulung, bisa dilihat dari banyaknya lokasi peneluran penyu yang tersebar di sepanjang pantai barat Sulawesi hingga wilayah timur Kalimantan.
Selain itu, fenomena kemunculan hiu juga dapat dipengaruhi oleh perubahan arus laut akibat pergantian musim.
Saat ini, wilayah Indonesia tengah memasuki masa peralihan dari angin monsun barat menuju monsun timur, yang turut memengaruhi dinamika arus laut di Selat Makassar.
Faktor Aktivitas Manusia dan Perubahan Iklim
Tidak hanya faktor alami, aktivitas manusia juga ikut memengaruhi pergerakan biota laut.
Lalu lintas kapal yang padat di Selat Makassar, misalnya, dapat mengganggu jalur migrasi alami hewan-hewan laut tersebut.
Di sisi lain, perubahan iklim juga memberi dampak pada kondisi ekosistem laut. Suhu air yang semakin hangat di wilayah pesisir dapat meningkatkan kelimpahan plankton di perairan dangkal.
Kondisi ini kemudian menarik ikan-ikan kecil untuk datang, yang pada akhirnya memancing kedatangan predator besar seperti hiu.
“Rantai makanan di laut bekerja sangat cepat. Jika plankton melimpah, ikan kecil datang. Jika ikan kecil banyak, predator besar juga akan mengikuti,” ujarnya.
Dampak Kemunculan Hiu di Pesisir
Meski secara ilmiah fenomena ini dapat dijelaskan, kemunculan hiu di perairan dangkal tetap menimbulkan sejumlah risiko.
Salah satunya adalah gangguan navigasi pada hiu akibat kebisingan di wilayah pesisir, seperti lalu lintas kapal dan aktivitas manusia di laut.
Jika orientasi hiu terganggu, hewan tersebut bisa tersesat hingga terdampar di pantai dan berujung mati.
Selain itu, hiu juga kerap dianggap sebagai pesaing oleh nelayan karena sama-sama memburu ikan. Tidak jarang, kondisi ini membuat hiu dibunuh ketika tertangkap atau terlihat mendekati perahu.
Masalah lain adalah misinformasi yang berkembang di masyarakat. Banyak orang menganggap hiu sebagai hewan yang sangat berbahaya, padahal sebagian besar spesies hiu di Indonesia tidak agresif terhadap manusia.
Sinyal Lingkungan Laut yang Perlu Dikaji
Zulung menegaskan, meningkatnya kemunculan hiu maupun mamalia laut lainnya di perairan dangkal seharusnya menjadi perhatian serius.
Fenomena masuknya paus, lumba-lumba, dugong, hingga hiu ke wilayah pesisir bisa menjadi indikasi adanya perubahan kondisi lingkungan laut.
Karena itu, ia menilai fenomena tersebut perlu dikaji lebih lanjut oleh para peneliti dan otoritas terkait untuk memahami penyebab sebenarnya.
“Fenomena ini bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang berubah di ekosistem laut kita,” pungkasnya.