- Tim SAR gabungan melakukan teknik rappeling berisiko tinggi di Pegunungan Bulu Saraung, Maros, untuk evakuasi korban pesawat ATR 42-500.
- Korban pertama laki-laki ditemukan tersangkut di dahan pohon pada pukul 13.43 WITA, kemudian evakuasi diubah ke bawah akibat cuaca buruk.
- Tim pertama bertahan sekitar 30 jam bersama jenazah sebelum estafet penyerahan kepada tim lanjutan karena kondisi fisik dan cuaca ekstrem.
Seluruh personel bertahan bersama jenazah selama kurang lebih 30 jam di lokasi.
“Kami turun dari titik dekat punggungan awal pesawat jatuh. Setelah menemukan korban, kondisi medan dan cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras, kabut tebal, dan dingin membuat kami harus bertahan di lereng tebing semalaman sambil menjaga jenazah,” kata Rusmadi.
Ia menambahkan, pada siang hari berikutnya (19/01), tim pertama melakukan estafet penyerahan jenazah kepada tim lanjutan karena kondisi fisik dan keselamatan personel sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan evakuasi.
“Keselamatan tim tetap menjadi prioritas, sehingga proses evakuasi dilanjutkan oleh tim berikutnya,” ujarnya.
Baca Juga:Gubernur Sulsel Alokasikan Rp2,5 Miliar Anggaran Operasional Pencarian ATR 42-500
Tim kedua yang melanjutkan estafet jenazah menuju area persawahan kampung Lampeso dengan waktu tempuh 20 jam perjalanan (20/01), dan melanjutkan intercept dengan tim ketiga di Desa Lampeso untuk menuju ke kampung baru melalui jalan setapak sekitar 15 kilometer dengan melewati medan yang bervariasi (punggungan dan sungai).
Kemudian dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 5 kilometer untuk mencapai jalan poros Kecamatan Cenrana dan kemudian akan dievakuasi ke RS Bayangkhara Makassar untuk diserahkan ke pihak DVI.