Anggarkan Rp1,7 Triliun
BPOM telah mendapat dukungan pemerintah pusat maupun daerah. Pemprov Sulawesi Selatan telah menghibahkan lahan seluas 10 hektare untuk lokasi sekolah tersebut.
Selain itu, BPOM juga bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) untuk pendanaan.
"Khusus pembangunan sekolah ini, kami akan fokuskan Rp1,7 triliun. Anggaran ini sudah disetujui Kementerian Keuangan. Jadi kami optimistis proyek ini segera terealisasi," kata Taruna.
Baca Juga:Gubernur Sulsel Imbau Masyarakat Menahan Diri dan Jaga Sulsel
Ia menambahkan, pembangunan sekolah di Makassar juga menjadi simbol pemerataan pendidikan vokasi di luar Jawa.
Selama ini, sekolah-sekolah vokasi cenderung terkonsentrasi di Pulau Jawa, sehingga akses masyarakat dari Indonesia Timur lebih terbatas.
"Sulsel dipilih karena posisinya strategis. Kita dekat dengan Ibu Kota Nusantara (IKN). Jadi orang Ambon, Papua, atau Kalimantan yang ingin belajar tidak perlu jauh-jauh ke Jawa. Begitu juga yang dari Jawa tetap bisa terjangkau," ucapnya.
Dengan berdirinya Politeknik Pengawasan Obat dan Makanan di Sulsel, diharapkan Indonesia memiliki tenaga pengawas yang lebih siap dan profesional.
Sekolah ini juga diproyeksikan menjadi pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi dalam bidang pengawasan obat dan makanan.
Baca Juga:Jufri Rahman: Pelayanan Publik Adalah Wajah Pemerintah
Taruna menyebut, lulusan sekolah tersebut akan menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan pangan dan obat-obatan masyarakat.
"Ke depan, kita ingin ada generasi baru pengawas obat dan makanan yang tidak hanya bekerja, tapi juga punya insting tajam, skill laboratorium, dan berdaya saing internasional," ungkapnya.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing