Kepala BKKBN: Aborsi Tindakan Keji, Mengerikan

Dapat menurunkan kesempatan seorang ibu untuk bisa hamil dalam keadaan yang aman

Muhammad Yunus
Sabtu, 11 Juni 2022 | 09:30 WIB
Kepala BKKBN: Aborsi Tindakan Keji, Mengerikan
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam kunjungan kerja di Sragen, Jawa Tengah, Selasa (17/9/2019). (ANTARA)

SuaraSulsel.id - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Hasto Wardoyo mengatakan tindakan aborsi yang keji dapat menurunkan kesempatan seorang ibu untuk bisa hamil dalam keadaan yang aman dan anak lahir dalam kondisi sehat.

"Ketika sudah aborsi dua kali, itu agak mengerikan. Peluang hamil menjadi kecil, maksud saya hamil yang sukses dan sampai lahir. Mungkin untuk hamil saja bisa," kata Hasto saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat 10 Juni 2022.

Namun, lanjut dia, kalau sudah ketiga kali itu akan sulit. Jika kehamilan keempatnya tidak aborsi dan itu gagal, akan memberi dampak lebih buruk pada kehamilan berikutnya.

Menanggapi terjadinya insiden tujuh janin yang digugurkan dan dimasukkan ke dalam kotak makan di Sulawesi Selatan, Hasto menjelaskan bahwa jenis aborsi itu merupakan abortus provokatus atau aborsi dengan sengaja karena menggunakan alat atau obat-obatan.

Baca Juga:8 Bahaya Aborsi, Tindakan Ilegal dan Melanggar Hukum yang Berefek Buruk pada Kesehatan

Jenis aborsi itu, menurut dia, sangat berbahaya karena berisiko menyebabkan mulut rahim terkena infeksi akibat luka terbuka dari plasenta janin yang lepas. Infeksi akan makin parah jika pembersihan rahim tidak secara optimal dan tidak sterilnya alat-alat untuk melakukan tindakan keji tersebut.

Selain infeksi, aborsi mampu meningkatkan risiko kematian pada ibu karena pendarahan yang hebat. Kegiatan aborsi secara tersembunyi, kata dia, sering kali menyebabkan telatnya penanganan dari ahli medis.

Aborsi juga dapat menurunkan peluang seorang ibu untuk bisa memiliki keturunan pada kehamilan selanjutnya. Aborsi yang terlalu sering, menurut dia, tidak dapat menahan kehamilan usia 3 atau 4 bulan karena mulut rahim tidak bisa mengunci rapat atau terlalu kendur sehingga janin bisa keluar dengan sendirinya.

"Dia (pelaku) itu hanya sedang beruntung saja (saat menggugurkan secara berulang). Kalau suatu saat tidak beruntung, ketika memaksa rahim dibuka paksa, itu risikonya pendarahan hebat dan bisa juga kena infeksi karena dipaksa dengan alat yang tidak steril, akhirnya bernanah bisa memiliki peluang tidak bisa hamil lagi," ucap dia.

Hasto meyakini bahwa aborsi itu terjadi karena rendahnya pengetahuan masyarakat terkait dengan kesehatan reproduksi.

Baca Juga:Siapa Pelaku Aborsi 7 Janin Dalam Kamar Kos di Makassar? Simak Informasinya

Dengan demikian, dia meminta Pemerintah dari kementerian atau lembaga terkait dapat meningkatkan dan memperkenalkan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi sejak anak berada pada usia dini.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini