Stok Daging Babi di Sulawesi Selatan Menipis

Menjelang natal dan tahun baru 2022

Muhammad Yunus
Senin, 13 Desember 2021 | 12:07 WIB
Stok Daging Babi di Sulawesi Selatan Menipis
Ilustrasi: Menjelang perayaan Hari Galungan dan Kuningan umat Hindu agar mengkonsumsi daging yang sehat dan memasaknya tidak dalam kondisi mentah atau setangah matang./Dok. Humas Pemkot Denpasar

SuaraSulsel.id - Stok daging babi di Sulawesi Selatan disebut menurun drastis. Menjelang natal dan tahun baru 2022.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan Pemprov Sulsel Abdul Azis mengatakan, penurunan stok diakibatkan oleh populasi babi di Sulsel yang terus menurun. Salah satunya karena babi yang dipotong rata-rata betina, bukan jantan.

Azis menjelaskan pada tahun lalu, populasi babi Sulsel mencapai 948.253 ekor. Kini hanya 893 ribu saja.

"Menurun drastis. Sampai triwulan III tahun 2021, penurunannya mencapai 5,77 persen. Sangat minus," kata Azis kepada media di hotel Harper Makassar, Senin, 13 Desember 2021.

Baca Juga:Menhub: Jaga Kelancaran Arus Penumpang dan Prokes Ketat di Pelabuhan Saat Nataru

Ia mengatakan tingkat konsumsi daging babi setahun terakhir meningkat drastis. Tertinggi di wilayah Toraja Utara, Tana Toraja, kemudian daerah Luwu dan Luwu Timur.

Ia mengaku peningkatan konsumsi diakibatkan oleh upacara adat di Toraja yang menjadikan babi sebagai hewan utama yang harus disembelih. Apalagi saat ini, izin upacara adat di masa pandemi sudah dilonggarkan, baik untuk pemakaman dan pernikahan.

"Apalagi di bulan Desember ini, konsumsi daging sangat meningkat. Namun dari jumlah populasi, stok yang ada masih cukup aman. Kami jamin tidak ada masalah," tambah Azis.

Penurunan stok membuat harga daging babi di Toraja mengalami peningkatan drastis. Salah satu pedagang daging babi, Agustina mengatakan, sepekan terakhir harga daging babi di pasaran menyentuh angka Rp80 ribu per kilo.

"Sebelumnya Rp55 ribu. Sekarang jelang natal jadi naik. Banyak juga pesta," kata Agustin.

Baca Juga:Terapkan PPKM Level 3, Wagub DKI: Tak Ada Penyekatan Saat Nataru di Jakarta

Ia mengatakan harga naik karena stok yang ada berkurang. Apalagi, peternak babi sekarang tidak lagi menjual ke pedagang, tapi langsung menjualnya secara online.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini