alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Duh..! Helikopter Pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan Rusak

Muhammad Yunus Kamis, 04 Maret 2021 | 16:40 WIB

Duh..! Helikopter Pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan Rusak
Tim Fire Fighter PT RAPP (APRIL Group) sedang melakukan pemadaman karhutla baru-baru ini, di daerah Kampung Baru, Teluk Lanus, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak. [Ist]

Luas kebakaran diperkirakan sudah lebih dari 100 hektare

SuaraSulsel.id - Helikopter bantuan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengalami gangguan. Sehingga tidak bisa membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari udara di Riau.

Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Jim Gofur di Pekanbaru, mengatakan terjadi kerusakan pada alat pengangkut air yang dipasang terpisah di helikopter.

Akibatnya, helikopter tidak bisa membantu aktivitas pemadaman dari udara atau "water bombing" sejak 2 Maret lalu.

"Ada masalah pada 'bucket' karena itu sistemnya kan bongkar pasang, jadi ketika mau digunakan bermasalah," kata Jim, Kamis 4 Maret 2021.

Baca Juga: Karhutla Riau: 110 Ha Lahan Gambut Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Terbakar

Pemprov Riau sudah menetapkan status Siaga Darurat Karhutla sejak 15 Februari hingga 31 Oktober 2021.

Jim mengatakan KLHK mengirim Helikopter jenis Bell 412 untuk membantu operasi Satgas Udara. Sehingga bisa digunakan untuk patroli dan pemadaman dengan "water bombing".

Sebelumnya, heli tersebut sempat membantu pemadaman dari udara di Kabupaten Bengkalis dan Rokan Hilir.

Namun, saat 2 Maret helikopter mengalami masalah alat. Sehingga tidak bisa membantu pemadaman yang dibutuhkan di kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil, di Kabupaten Bengkalis.

"Semoga hari ini sudah bisa ditangani," katanya.

Baca Juga: Kecelakaan Helikopter di China, Lima Orang Tewas

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono, menyatakan butuh bantuan helikopter untuk proses pemadaman kebakaran di kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, yang masih sulit dikendalikan karena sulitnya mencapai sumber air.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait