"Kalau menghitung suara ilegal, mereka dapat berusaha mencuri pemilihan dari kita," lanjutnya.
Sementara surat suara terus dihitung, sedikit sekali bukti mengenai penipuan.
Namun begitu tim kampanye Trump meletakkan landasan untuk menantang hasil pemilu dengan mengajukan puluhan gugatan hukum yang mencakup antara lain penghitungan suara di negara bagian-negara bagian penting, termasuk di Georgia, Michigan dan Pennsylvania.
Menurut Steve Mulroy, penulis buku Rethinking US Election Law, kubu Trump akan melakukan hal tersebut di semua negara bagian di mana marjin kemenangan tipis, dengan harapan gugatan itu pada akhirnya akan tiba di Mahkamah Agung, di mana mayoritas hakim konservatif enam berbanding tiga diharapkan lebih bersikap simpatik.
Baca Juga:Pimpin Klasemen Liga Inggris atas Liverpool, Southampton: Stop The Count!
Di Nevada, kubu Trump mengajukan gugatan, dengan mengklaim tanpa bukti bahwa ribuan nonwarga telah ikut memberikan suara.
Gugatan kubu Trump untuk memastikan wakil-wakilnya dapat mengamati dengan lebih baik penghitungan suara di Philadelphia, Pennsylvania, telah dikabulkan.
Gugatan untuk menghentikan penghitungan suara di Michigan ditolak, begitu pula gugatan lainnya di Georgia, yang menuduh para petugas pemilu mencampur surat suara yang tidak memenuhi syarat dengan yang sah.
Tim kampanye Biden sendiri menyebut rentetan gugatan itu sebagai strategi yang gagal.
Manajer kampanye Biden, Jen O’Malley Dillon mengatakan gugatan itu tidak ada gunanya, tak lebih dari upaya mengalihkan perhatian serta menunda sesuatu yang tidak terelakkan.
Baca Juga:Komat-Kamit Penasihat Spiritual Panggil Malaikat untuk Kemenangan Trump
Semua mata kini tertuju pada Pennsylvania dan Georgia. Trump harus menang di kedua negara bagian itu untuk mengamankan jabatan presiden, sedangkan Biden dapat menang tanpa keunggulan di salah satu negara bagian itu jika ia mempertahankan keunggulan tipisnya di Arizona dan Nevada. (VOA)