- Pada 1981, Jenderal M. Jusuf menggunakan pesawat Hercules TNI-AU untuk mewujudkan kemanunggalan ABRI dengan rakyat di berbagai daerah.
- Sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan, ia merombak asrama prajurit, menaikkan uang lauk-pauk, serta meningkatkan kesejahteraan tentara.
- Pemerintah mengesahkan Jenderal M. Jusuf sebagai Pahlawan Nasional yang akan menerima gelar di Istana Negara pada November 2026.
SuaraSulsel.id - Pada 1981, dua pesawat Hercules C-130 H(S) tiba untuk memperkuat armada angkut berat TNI-AU.
Pesawat itu termasuk yang paling modern di zamannya. Keduanya, bernomor registrasi A-1314 dan A-1341 ditempatkan di Skadron Udara 17 VVIP.
A-1314 lalu lebih sering dipakai Jenderal M. Jusuf, Menteri Pertahanan dan Keamanan merangkap Panglima ABRI untuk berkeliling daerah.
Tujuannya bukan memamerkan kekuatan udara. Ia membawa pesan Presiden Soeharto saat menunjuknya memimpin ABRI mewujudkan kemanunggalan ABRI dengan rakyat.
Bangsawan yang Tak Mau Dipanggil Andi
Muhammad Jusuf lahir di Mare, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 23 Juni 1928. Ia keturunan bangsawan Bugis dan berhak menyandang gelar Andi.
Gelar itu ia tanggalkan. Ia tak ingin kebangsawanan jadi penghalang dalam bergaul dengan masyarakat luas. Ia ingin bergaul bebas tanpa jurang pemisah.
Sikap itu kelak tercermin dalam cara ia memimpin Departemen Hankam. Sebuah buku tentang dirinya menyebut Jusuf "senang bergaul dengan kalangan bawah".
Dari Resimen ke Kabinet
Baca Juga: Hari Pahlawan 2026, Cucu Bau Massepe Ajak Generasi Muda Lanjutkan Perjuangan
Jusuf masuk ketentaraan sejak 1945. Ia pernah menjadi Kepala Staf Resimen 24 Manado dan perwira operasi TT-VII/Indonesia Timur, lalu Komandan Resimen Hasanuddin.
Setelah ikut menumpas pemberontakan DI/TII pada 1961, ia dipercaya memimpin Kodam XIV/Hasanuddin. Pendidikan militernya ditempuh di dalam dan luar negeri, termasuk Infantry Advanced Course di Fort Benning, Amerika Serikat.
Ia lalu ditarik ke Jakarta. Dekat dengan Presiden Soekarno, ia diangkat menjadi Menteri Industri Ringan di Kabinet Dwikora dan hadir dalam sidang kabinet di Istana pada 11 Maret 1966.
Jabatan menteri lain menyusul. Dari Perindustrian Dasar, Perdagangan, hingga Perindustrian, sampai Maret 1978.
Maka ketika Soeharto menunjuknya sebagai Menhankam/Pangab pada 1978, banyak yang bertanya-tanya. Kariernya tak banyak berkutat di bidang militer, dan ia lebih dikenal sebagai menteri bidang industri.
TNI Jangan Sakiti Hati Rakyat
Jusuf menjawab keraguan itu lewat tindakan. Langkah pertamanya setelah dilantik adalah memperbaiki dan merombak asrama prajurit yang rusak, terutama di pelosok.
Ia tak tega melihat prajurit tinggal di bangunan yang bocor kala hujan dan terik kala panas. Keluarga prajurit pun belum menikmati lampu listrik di malam hari, padahal Indonesia sudah puluhan tahun merdeka.
Uang lauk-pauk dinaikkan tiga kali lipat. Kaus kaki, sepatu, pakaian, hingga persenjataan diperbaiki setahap demi setahap.
Ia juga berpesan kepada prajurit di mana pun bertugas agar tak menyakiti hati rakyat, sebab TNI berasal dari rakyat.
Kesederhanaan itu ia berlakukan ke dalam. Markas TNI tak boleh dibangun dengan pendingin ruangan, apalagi permadani.
Pejabat yang berkunjung ke daerah tak boleh dikawal khusus kecuali Presiden dan Wakil Presiden.
Prajurit dilarang merokok karena tak sehat dan mahal. Jusuf sendiri tak merokok, rajin berolahraga di sekitar rumah dan dikenal tekun beribadah.
Rumah Tanpa Pengawal
Ia juga menolak diwawancarai. Menurut catatan yang beredar, bukan karena tak suka wartawan, melainkan karena tak mau tampil seolah dirinya yang paling berjasa bagi negara.
Istrinya pun enggan diwawancarai dan tak punya ajudan, bebas berbelanja ke pasar tradisional tanpa pengawalan.
Rumah dinas tak dijaga. Ajudan hanya bertugas pada jam kantor, selebihnya Jusuf mengurus keperluannya sendiri.
Pasangan ini pernah dikaruniai seorang putra yang meninggal pada usia delapan tahun.
Dari kebiasaan inilah muncul kisah pohon hias.
Suatu hari tanaman kesayangannya di halaman rumah lenyap. Sang ajudan kelimpungan karena dimarahi panglimanya.
Ia bingung menjawab, sebab Jusuf sendiri yang tak mau rumahnya dikawal.
Turun ke Barak
Jusuf tak puas hanya duduk di belakang meja. Lewat program ABRI Masuk Desa, prajurit dikirim ke pelosok membantu pembangunan infrastruktur.
Ia rutin keliling daerah menengok kondisi tentara beserta keluarganya dan terjun langsung ke barak. Di mata prajurit, reputasinya pun membaik.
Namanya lalu melampaui lingkungan militer. Ke mana pun ia pergi, banyak orang ingin melihatnya, walau popularitasnya tetap di bawah Soeharto.
Kabar bahwa ia cocok menjadi pengganti presiden atau calon wakil presiden pun berembus.
Dingin dari Cendana
Popularitas itu rupanya membuat Soeharto waswas. Hubungan keduanya mendingin.
Menurut kisah yang beredar, Jusuf pernah menggebrak meja di hadapan Presiden dan para pejabat saat ditanya apakah ia punya ambisi pribadi.
Kecewa, ia makin sering mengutus wakilnya bila ada pertemuan dengan Soeharto. Rumor wakil presiden pun sirna dan jabatannya sebagai panglima digeser ke kursi Ketua Badan Pemeriksa Keuangan.
Gelar yang Lama Tertunda
Sejak 2019, namanya berulang kali diusulkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menjadi Pahlawan Nasional, tetapi tak kunjung disahkan.
Penantian panjang itu berakhir pekan ini. Surat Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial bernomor 1931/5.5/PB.06.00/11/2026, tertanggal 6 November 2026, memberi kepastian.
Surat itu ditujukan kepada Kepala Dinas Sosial Sulawesi Selatan, Malik Faisal dan menindaklanjuti surat Sekretaris Militer Presiden Nomor 17/KSN/SM/GT.03.00/11/2026 tertanggal 5 November.
Dinas Sosial diminta menyiapkan satu ahli waris dan satu pendamping untuk hadir dalam upacara di Istana Negara, Jakarta, 10 November 2026 yang dijadwalkan dipimpin Presiden Prabowo Subianto.
Lelaki yang dulu menanggalkan gelar Andi itu akan menerima gelar lain dari negara. Ya, dia pahlawan nasional asal Mare, Bone, Sulawesi Selatan.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
- Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa PUSPOM? Panglima TNI: Itu Hoaks
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Jenderal yang Menanggalkan Gelar Andi, Kini Bergelar Pahlawan Nasional
-
5.000 Atlet Siap Bertanding di Bone dan Wajo
-
Perempuan Sulawesi Bersuara Desak Moratorium Izin Tambang dan Perlindungan Hutan Hujan
-
Nusron Wahid Masih Bisa ke Luar Negeri, KPK Pertimbangkan Statusnya sebagai Menteri
-
Ini Syarat Anak Disabilitas Masuk Sekolah Rakyat