- Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mengimbau warga membekukan cabai rawit untuk mengantisipasi lonjakan harga Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.
- Kepala Biro Perekonomian Reza Dotulung menyatakan pasokan cabai di Manado bergantung pada distribusi dari Surabaya dan Makassar.
- Pemerintah daerah berharap langkah penyimpanan cabai beku ini dapat membantu masyarakat menghadapi fluktuasi harga pangan secara bertahap.
SuaraSulsel.id - Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) mengimbau masyarakat mulai menyiapkan persediaan cabai rawit dengan cara menyimpannya dalam kondisi beku.
Langkah ini untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.
Kepala Biro Perekonomian Pemprov Sulut, Reza Dotulung, mengatakan imbauan tersebut disampaikan untuk membantu masyarakat menghadapi potensi lonjakan harga cabai rawit seiring meningkatnya permintaan pada momentum hari besar keagamaan nasional (HBKN).
"Imbauan ini disampaikan untuk membantu masyarakat mengantisipasi potensi kenaikan harga cabai rawit akibat meningkatnya permintaan pada momentum hari besar keagamaan nasional," kata Reza di Manado, Rabu (4/11).
Menurut dia, pasokan cabai rawit di sentra perdagangan Kota Manado dan sekitarnya saat ini sebagian besar berasal dari Surabaya dan Makassar.
Kondisi tersebut membuat ketersediaan dan harga cabai di pasaran turut bergantung pada kelancaran distribusi dari kedua daerah pemasok.
Reza menyebut harga cabai rawit asal Makassar saat ini mencapai Rp80 ribu per kilogram, sedangkan cabai dari Surabaya dijual sekitar Rp110 ribu per kilogram.
Perbedaan harga tersebut menunjukkan adanya variasi harga berdasarkan daerah asal pasokan yang perlu diperhatikan dalam upaya menjaga stabilitas harga pangan di Sulawesi Utara.
Menghadapi peningkatan kebutuhan menjelang Natal dan Tahun Baru, masyarakat juga diminta tidak sepenuhnya bergantung pada pembelian cabai segar saat harga mulai meningkat.
Baca Juga: Kejahatan Kosmetik di Sulawesi Utara Tertinggi Kedua Nasional
"Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah membeli cabai secukupnya untuk kemudian disimpan dalam freezer atau lemari pendingin, sehingga bisa digunakan secara bertahap sesuai kebutuhan rumah tangga," ujarnya.
Penyimpanan cabai dalam kondisi beku dinilai dapat menjadi salah satu langkah antisipasi menghadapi fluktuasi harga.
Dengan menyiapkan persediaan lebih awal, masyarakat diharapkan tidak terlalu terbebani apabila terjadi kenaikan harga saat permintaan meningkat.
Di sisi lain, Pemprov Sulut terus memantau perkembangan pasokan dan harga sejumlah komoditas pangan strategis.
Kelancaran distribusi dari daerah pemasok menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga ketersediaan kebutuhan masyarakat.
Pemprov Sulut juga mengingatkan warga agar mengatur belanja secara bijak dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
- Margarito Kamis Jelaskan Isi Putusan MA, RI Tak Lagi Punya Wakil Presiden yang Sah?
Pilihan
-
Relawan Jokowi Padati PN Jaktim, Joget-Joget dan Bawa Poster Sindiran untuk Roy Suryo
-
Jokowi Bantah Roy Suryo di Sidang: Di Skripsi Saya Tak Ada Tulisan 'Tesis'
-
Lirikan Mata Jokowi ke Roy Suryo di Ruang Sidang Ijazah Palsu
-
Hakim Periksa KTP Jokowi, Pekerjaannya Berbeda dengan yang Diucapkan
-
Jokowi Datang ke PN Jaktim, Ditemani Kahiyang dan Kaesang
Terkini
-
Harga Cabai Mulai Pedas Jelang Nataru! Warga Diimbau Simpan Cabai Beku di Freezer
-
20 SMA di Sulsel Diduga Curang di Ujian Tes Kemampuan Akademik
-
Kejari Sikat Pajak Perusahaan, Kolaka Kecipratan Dana Segar Rp18 Miliar
-
Gubernur Sulsel Luncurkan Beasiswa Yatim-Piatu 2026: Tanpa Biaya, Ini Syarat dan Cara Daftar
-
Lokasi PSEL Makassar Dievaluasi Ulang ?