- Profesor Unhas menyatakan perbedaan warna Pertalite terjadi akibat variasi zat pewarna tanpa menurunkan kualitas bahan bakar.
- Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memastikan seluruh produk BBM telah melalui pemeriksaan ketat sebelum didistribusikan kepada masyarakat.
- Pengujian laboratorium secara independen diperlukan untuk membuktikan secara transparan apakah bahan bakar mengalami kontaminasi atau penyimpanan lama.
SuaraSulsel.id - Pertalite dengan warna berbeda belakangan menjadi perbincangan masyarakat. Ada yang tampak hijau bening, tetapi ada pula yang terlihat lebih gelap.
Tak hanya itu, Pertalite yang berwarna hijau gelap juga dikatakan mengeluarkan aroma lebih menyengat.
Perbedaan tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan konsumen. Pertalite warna apa yang aman digunakan untuk mesin kendaraan?
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Muhammad Bachtiar Nappu mengatakan masyarakat tidak harus terburu-buru menyimpulkan Pertalite yang berbeda warna atau berbau menyengat telah mengalami penurunan kualitas maupun pengoplosan.
Secara ilmiah, warna dan aroma bukan parameter tunggal untuk menentukan angka oktan maupun mutu keseluruhan bahan bakar.
Bachtiar menjelaskan bensin pada dasarnya memiliki warna asli yang bening. Sementara warna hijau pada Pertalite berasal dari zat pewarna yang ditambahkan sebagai penanda produk.
"Pewarna tidak menentukan kualitas maupun angka oktan atau RON 90," ujarnya, Selasa, 3 November 2026.
Perbedaan warna bisa berkaitan dengan variasi takaran pewarna. Namun, apabila sampel terlihat sangat gelap atau keruh dan disertai bau yang tidak lazim, kondisi itu tidak boleh diabaikan.
Menurutnya, perubahan karakteristik tersebut dapat berkaitan dengan degradasi bahan bakar selama penyimpanan atau kemungkinan tercampur zat lain.
Baca Juga: Viral Ikan Asin Disemprot Baygon, Alumni Perikanan Unhas Tawarkan Solusi Aman
Meski demikian, penyebab pastinya harus dibuktikan melalui pengujian laboratorium.
"Perbedaan warna biasanya sekadar beda takaran pewarna dari pabrik, namun jika warnanya gelap keruh disertai bau sangat menyengat, itu bisa berarti bensin sudah "basi" akibat disimpan terlalu lama atau tercampur zat lain. Kualitas dan keamanan bensin tidak bisa dinilai hanya dari penglihatan atau penciuman, sehingga harus diuji langsung di laboratorium," jelasnya.
Ia menekankan spesifikasi Pertalite tidak hanya mengatur angka oktan minimal 90, tetapi juga persyaratan fisik dan sejumlah karakteristik kimia lainnya.
Karena itu, pengujian tidak boleh hanya berfokus pada RON.
Kualitas BBM juga ditentukan oleh sejumlah parameter, seperti kandungan sulfur, benzena, aromatik, stabilitas oksidasi, tekanan uap, karakteristik distilasi, hingga densitas.
Bachtiar mendorong pemerintah dan Pertamina melakukan pengujian secara independen terhadap sampel Pertalite jika sudah menimbulkan keresahan di masyarakat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
Warna BBM Pertalite Bening dan Gelap Beredar, Konsumen Bingung Pilih yang Mana?
-
Wapres Gibran Hadiri Peringatan 100 Tahun Injil Masuk Kalumpang
-
Proyek Stadion Sudiang Masuk Tahap Paling Krusial, Pembangunan Sudah 25 Persen
-
Unhas Latih Dosen dan Mahasiswa Gunakan AI
-
De Red Bertekad Kalahkan PSM dalam League Cup