- Kemenkes RI menemukan 13.297 kasus dugaan kusta melalui program Cek Kesehatan Gratis pada tahun 2026.
- Dirjen P2P Kemenkes Andi Saguni menyatakan Sulawesi Selatan menjadi salah satu provinsi dengan tambahan kasus baru terbanyak.
- Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menegaskan skrining massal bertujuan untuk pencegahan dan penanganan dini pasien kusta.
SuaraSulsel.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menemukan 13.297 orang yang diduga mengalami kusta dari 25,2 juta peserta berusia satu tahun ke atas yang menjalani pemeriksaan dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026.
Sulawesi Selatan menjadi salah satu provinsi dengan penambahan kasus baru kusta terbanyak di Indonesia.
Temuan tersebut menjadi perhatian pemerintah dalam upaya mempercepat eliminasi kusta di Indonesia.
Di tahun 2026, Kemenkes turut melakukan skrining kusta, skabies, dan frambusia melalui program CKG.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, Andi Saguni mengatakan tren kasus kusta di Indonesia termasuk di Sulawesi Selatan mulai menunjukkan penurunan.
Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup untuk mencapai target eliminasi.
"Jadi kita tahu bersama beberapa tahun yang lalu, Sulawesi Selatan itu angka kustanya tinggi, salah satu yang tertinggi di Indonesia. Dan kalau penyakit apa pun, termasuk penyakit menular seperti kusta, semakin cepat dideteksi, itu lebih bagus," kata Andi Saguni saat Pencanangan Rekor MURI pemberian obat kusta atau kemoprofilaksis dan skrining Andalan Sehati dalam rangka Hari Jadi Sulsel di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Selasa, 27 Oktober 2026.
Ia menegaskan masyarakat tidak perlu takut apabila skrining menemukan lebih banyak kasus.
Sebaliknya, penemuan kasus sejak dini akan membantu pasien segera mendapatkan pengobatan sehingga peluang kesembuhannya lebih baik.
Baca Juga: Disnakertrans Sulsel Gandeng Perusahaan Edukasi K3 Anak SD
"Enggak usah takut bahwa angkanya akan tinggi, tetapi diobati dan itu lebih bagus sembuh," ujarnya.
Andi menjelaskan kegiatan skrining yang menyasar 10.000 orang juga disertai pemberian kemoprofilaksis atau obat pencegahan kepada orang-orang yang berkontak erat dengan pasien kusta.
Melalui langkah tersebut, pemerintah berupaya memutus rantai penularan penyakit. Orang yang terindikasi mengalami kusta terlebih dahulu diidentifikasi, kemudian orang-orang di sekitarnya diberikan obat pencegahan sesuai indikasi dan ketentuan medis.
"Jadi kegiatan 10.000 ini memberikan profilaksis adalah pencegahan. Jadi orang yang sakit kusta sebenarnya itu sudah diidentifikasi, kemudian orang-orang sekitarnya itu diberikan obat. Jadi kita putus mata rantai ini," jelasnya.
Andi berharap intervensi tersebut dapat menekan jumlah kasus secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Pemerintah menargetkan bukan sekadar penurunan tren, melainkan eliminasi kusta, termasuk di Sulawesi Selatan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- Penyekapan 10 Calon ART Gegerkan Surabaya, Pemkot Segel Penampungan di Kedung Anyar
- Tiga Jembatan di Batang Toru, Ikhtiar Menjaga Satwa Liar Tetap Terhubung
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Saluran Air Banyak Tersumbat? Pemkot Makassar Jajal Senjata Baru dari Jepang
-
Salah Sasaran! Anggota TNI AU di Makassar Kena Anak Panah di Perut
-
Sulawesi Selatan Jadi Sorotan: Kasus Kusta Tinggi, 10.000 Orang Diberi Obat
-
Eks Bupati Gowa Husniah Talenrang Punya Penyakit, Ajukan Penangguhan Penahanan
-
36 Adegan Diperagakan, Rekonstruksi Kasus Bos Bakar Sopir Truk di Karangasem Diwarnai Isak Tangis