- Mantan pemain Timnas Indonesia, Indriyanto Nugroho, menyatakan konsistensi pembinaan di Makassar pada Minggu (4/10/2026) sangat penting bagi talenta muda.
- Superco Superteam asuhan Indriyanto berhasil menjuarai turnamen dengan mengalahkan wakil Kalimantan Timur skor 1-0.
- Program ini membentuk karakter tangguh pemain muda.
SuaraSulsel.id - Indonesia dinilai tidak pernah kehabisan talenta muda sepak bola. Tantangan terbesar justru bagaimana menjaga bakat tersebut tetap berkembang hingga mereka benar-benar siap menembus level profesional.
Mantan pemain Tim Nasional Indonesia, Indriyanto Nugroho, menilai konsistensi pembinaan menjadi kunci untuk memastikan talenta-talenta muda di daerah tidak berhenti di tengah jalan.
Hal itu disampaikan Indriyanto saat terlibat sebagai pelatih dalam program Khong Guan Superco Superfest 2026 di Makassar, Minggu (4/10/2026).
Menurutnya, banyak pemain muda sudah menunjukkan kemampuan menjanjikan sejak usia 10 hingga 12 tahun. Namun, memasuki usia 13, 14 dan 15 tahun, mereka membutuhkan pembinaan yang lebih serius dan berkelanjutan.
“Banyak anak usia muda yang sudah bagus di usia 10, 11, 12 tahun. Tapi ketika masuk 13, 14, 15 tahun, kita harus terus kejar dan dampingi mereka,” kata Indriyanto.
Fase tersebut, kata dia, sangat penting karena pemain mulai menghadapi berbagai tantangan di luar lapangan. Mulai dari lingkungan pergaulan, pendidikan, hingga pilihan masa depan.
Memasuki usia 15 hingga 17 tahun, pemain juga berada pada masa transisi yang menentukan. Mereka mulai dihadapkan pada pertanyaan apakah akan melanjutkan pendidikan, masuk akademi sepak bola, atau mengejar karier sebagai pemain profesional.
“Ini masa-masa transisi. Transisi dari lingkungan, transisi dari sekolah juga. Mereka lulus sekolah mau ke mana, tujuan berikutnya mau ke mana. Ini yang harus sebagai pelatih bisa memberikan jalan yang terbaik,” ujarnya.
Bukan Sekadar Mencari Bakat
Baca Juga: Harga Diri Dipertaruhkan! Wali Kota Bakar Semangat PSM Jelang Lawan Arema FC
Indriyanto menilai menemukan pemain berbakat hanyalah langkah awal. Tantangan sebenarnya adalah memastikan mereka mendapatkan lingkungan latihan dan kompetisi yang mendukung perkembangan secara konsisten.
Ia juga menyoroti faktor gadget tau HP yang menurutnya dapat menjadi tantangan tersendiri bagi pemain muda jika tidak diarahkan dengan baik.
“Yang terbesar saat ini salah satunya gadget. Itu yang bisa membuat mereka lupa dengan apa yang mereka cita-citakan,” katanya.
Karena itu, pemain muda membutuhkan pendampingan agar tetap fokus pada proses pengembangan kemampuan dan tidak terburu-buru mengejar hasil instan.
Indriyanto juga menekankan pentingnya sinergi antara pelatih, keluarga, sekolah, klub, federasi hingga pihak swasta.
“Sepak bola itu gampang-gampang susah. Kuncinya ada pada konsistensi dari seluruh stakeholder, termasuk federasi dan pihak swasta,” katanya.
Ia mengapresiasi Superco yang dinilai konsisten turun langsung ke daerah untuk mencari dan memberi ruang kepada talenta-talenta muda.
“Ini sudah ketiga kalinya saya terlibat bersama Superco, dan antusiasme anak-anak di Makassar sungguh luar biasa,” ujarnya.
Superco Superteam Tundukkan Wakil Kalimantan Timur
Pesan tentang pentingnya pembinaan tersebut menjadi semakin relevan setelah Superco Superteam berhasil menjuarai Superco Superfest 2026 di Makassar.
Tim yang merupakan hasil pembinaan program tersebut mengalahkan SSB Banjar Nusantara asal Kalimantan Timur dengan skor tipis 1-0 pada laga final.
Di bawah arahan Indriyanto sebagai Head Coach, Superco Superteam mampu mempertahankan keunggulan hingga pertandingan berakhir.
Bagi program pembinaan, kemenangan tersebut bukan sekadar soal trofi. Para pemain yang terpilih kini memiliki kesempatan untuk terus dipantau dan dikembangkan menuju level yang lebih tinggi.
Grassroots Coach Development & Talent ID Scouter, Eric Saputra Hidayat, mengatakan para pemain Superteam memiliki karakter dan kelebihan masing-masing.
“Anak-anak ini punya kelebihan masing-masing yang sangat menonjol. Kami tidak akan berhenti di sini saja,” kata Eric.
Menurutnya, perkembangan para pemain akan tetap dipantau melalui jaringan komunikasi dan data scouting.
Pemain yang dinilai memiliki potensi akan mendapat rekomendasi untuk melanjutkan pembinaan di akademi sepak bola profesional.
Bahkan, peluang menuju tim nasional juga terbuka bagi pemain yang mampu menunjukkan perkembangan secara konsisten.
“Saya siap mendampingi dan merekomendasikan mereka untuk masuk ke akademi sepak bola profesional hingga proyeksi ke Timnas,” tegasnya.
Dari Sekolah hingga Lapangan Hijau
Marketing Manager Khong Guan, Tenne Gunawan, mengatakan Superco Superfest tidak hanya dirancang untuk mencari pemain berbakat.
Program tersebut juga diarahkan untuk membangun karakter, kedisiplinan dan ketahanan emosional pemain sejak usia muda.
“Selain mengasah keterampilan mengolah bola, kami membina sisi emosional dan kedisiplinan mereka. Harapannya, mereka tumbuh menjadi pesepak bola berkarakter tangguh yang siap membawa nama harum Indonesia di masa depan,” ujar Tenne.
Rangkaian program di Makassar dimulai dari Goes to School yang menyambangi 15 sekolah. Selain itu, audisi digital juga dilakukan untuk menjaring pemain muda dari sejumlah daerah, termasuk Palu dan Kendari.
Para pemain terpilih kemudian digembleng hingga terbentuk Superco Superteam yang tampil pada ajang Superfest 2026.
Makassar dipilih sebagai lokasi perdana program di luar Pulau Jawa. Kota ini dinilai memiliki basis sepak bola yang kuat serta ekosistem pembinaan yang didukung klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan, PSM Makassar.
Antusiasme peserta dan masyarakat di Makassar juga membuka peluang program serupa digelar kembali di daerah lain.
“Melihat antusiasme yang luar biasa di Makassar, tahun depan ada kemungkinan besar kami akan kembali menyapa anak-anak di luar Pulau Jawa,” kata Tenne.
Bagi Indriyanto, keberlanjutan program seperti ini menjadi penting. Sebab, menemukan talenta muda tidak cukup hanya sekali. Mereka harus terus dipantau, dilatih dan diberi kesempatan.
Jika proses tersebut dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak pihak, jalan pemain muda menuju level yang lebih tinggi akan semakin terbuka.
“Kalau dari kecil sudah konsisten, insyaallah bisa melihat lebih tinggi. Tapi semuanya kembali pada sinergitas,” tutup Indriyanto.
Berita Terkait
Terpopuler
- Operasi Politik Presisi Prabowo: Preteli Siji-siji
- 9 Sunscreen untuk Mencerahkan Wajah dan Menghilangkan Flek Hitam
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Indriyanto Nugroho Ungkap 'Musuh Tersembunyi' Bisa Hancurkan Karier Pesepak Bola Muda Indonesia
-
Dituding Fasilitasi Aksi LGBT di Pesta Selebgram, Izin MYE Lounge Makassar Diperiksa
-
Tergiur Cepat Kaya? Hati-hati, OJK Ingatkan Mahasiswa Jangan Tertipu Investasi Palsu
-
MYP Paket 1 Fokus Penataan Pedestrian, Drainase, dan Bahu Jalan
-
Dukung MotoGP 2026, BRI Dorong Sport Tourism Indonesia Semakin Mendunia