Muhammad Yunus
Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:49 WIB
Kondisi terkini Bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis 1 Oktober 2026. Sekitar 180 ribu pelanggan PDAM terdampak akibat kekeringan air [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Bendungan Bilibili di Kabupaten Gowa mengering pada 1 Oktober 2026, mengganggu pasokan air bagi warga dan ribuan hektare sawah.
  • BMKG melaporkan fenomena El Nino menyebabkan musim hujan di Sulawesi Selatan tahun ini mundur dua hingga tiga dasarian.
  • Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat kekeringan sejak 14 September 2026 serta menyiagakan pompanisasi dan sumur bor.

Dampaknya lebih terlihat pada berkurangnya jumlah curah hujan di sejumlah wilayah.

"Artinya periode sampai dengan melintas tahun 2027 itu bukan berarti kekeringan sepanjang tahun itu, bukan. Tetapi ada kontribusi pengurangan jumlah curah hujan di lokasi-lokasi tertentu," ujarnya.

Di beberapa wilayah, curah hujan yang biasanya mencapai sekitar 50 milimeter dapat turun menjadi sekitar 30 milimeter. Sementara wilayah yang biasanya mendapat sekitar 30 milimeter pada periode kering bisa mengalami curah hujan di bawah 20 milimeter.

Namun, memasuki Januari 2027, BMKG memproyeksikan curah hujan di sebagian besar wilayah Sulsel mulai berada di atas 100 milimeter.

BPBD Siapkan Antisipasi

Kepala BPBD Sulsel, Amson Padolo mengatakan musim hujan diprediksi mulai masuk pada November. Namun, hujan dengan intensitas kecil sudah berpotensi terjadi pada Oktober.

Karena itu, pemerintah daerah diminta tetap bersiaga menghadapi dampak kemarau. Terutama untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

"Jadi menyikapi hal tersebut berarti kita harus pada kesiapsiagaan terkait kemarau masih ada," kata Amson.

BPBD Sulsel telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota serta sejumlah organisasi perangkat daerah untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Baca Juga: Darurat Kekeringan di Makassar: Warga Krisis Air Bersih

Salah satu langkah yang kembali digiatkan adalah pompanisasi dan pemanfaatan sumur bor.

Program tersebut akan dilakukan bersama Dinas Pertanian dan instansi terkait. BPBD juga akan berkoordinasi dengan BMKG untuk melihat kemungkinan operasi modifikasi cuaca apabila kondisi memungkinkan.

"Karena kalau musim kemarau ini, kalau bukan dari bawah tanah, dari atas udara sumber airnya. Tapi yang pasti, pompanisasi digiatkan dengan sumur bor," ujarnya.

Sulsel sendiri telah menetapkan status tanggap darurat kekeringan sejak 14 September 2026.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More