- Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan meminta tambahan kuota BBM bersubsidi sebesar 30 persen kepada pusat pada September 2026.
- Gubernur Andi Sudirman Sulaiman menyatakan migrasi konsumen ke BBM bersubsidi akibat disparitas harga memicu antrean panjang.
- Pertamina meningkatkan pasokan harian, menambah armada, dan memperpanjang jam operasional SPBU untuk mengatasi kepadatan kendaraan.
SuaraSulsel.id - Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mewarnai Sulawesi Selatan dalam beberapa hari terakhir.
Kendaraan mengular hingga ke badan jalan. Sementara sebagian warga harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM.
Kondisi tersebut mulai terurai setelah Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menerapkan sejumlah langkah, termasuk sistem ganjil-genap untuk mengurangi kepadatan antrean.
Namun, persoalan pasokan dan lonjakan permintaan belum sepenuhnya selesai. Pemerintah Provinsi Sulsel kini meminta tambahan kuota BBM bersubsidi sebesar 30 persen kepada pemerintah pusat melalui Pertamina.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman mengatakan permintaan tersebut merupakan hasil evaluasi bersama antara Pemprov Sulsel, Pertamina, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), dan Hiswana Migas.
Ia mengatakan salah satu pemicu antrean panjang adalah terjadinya migrasi konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi akibat semakin lebarnya disparitas harga.
"Penyebab antrean panjang di SPBU karena ada migrasi besar-besaran akibat disparitas harga antara subsidi dengan nonsubsidi," kata Sudirman di rumah jabatannya, Senin, 14 September 2026.
Migrasi tersebut membuat permintaan terhadap BBM bersubsidi meningkat tajam. Konsumen yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi beralih menggunakan BBM bersubsidi karena pertimbangan harga. Kondisi itu kemudian berdampak pada panjangnya antrean di SPBU.
Suplai Sudah Dinaikkan, Antrean Tetap Panjang
Baca Juga: Karyawan SPBU Makassar Jatuh Sakit, Video Prabowo Ini Disebut Membuat Panjang Antrean
Sudirman mengatakan peningkatan permintaan sebenarnya telah diikuti dengan penambahan pasokan dari Pertamina.
Jika sebelumnya pasokan berada di kisaran 700 kiloliter, dalam beberapa waktu terakhir suplai disebut telah ditingkatkan hingga sekitar 1.300 kiloliter per hari di sejumlah titik.
Namun, tambahan pasokan tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi lonjakan permintaan.
"Peningkatan inilah sebenarnya dari pihak Pertamina sudah menyuplai lebih tinggi, yang biasanya 700-an kiloliter, sekarang 1.300 kiloliter. Malahan ada yang per hari. Tetapi tetap meningkat antrean," ujarnya.
Karena itu, Pemprov Sulsel meminta Pertamina melakukan analisis lebih lanjut untuk menghitung seberapa besar dampak migrasi konsumen terhadap kebutuhan kuota BBM bersubsidi di Sulsel.
Dari hasil pembahasan sementara, Pemprov Sulsel telah mengajukan permintaan tambahan kuota sebesar 30 persen.
"Intinya kita sudah minta tambahan. Kemarin suratnya sudah ada. 30 persen kita minta penambahan, tapi tentu nanti kita menunggu dari pusat berapa yang disetujui," kata Andi Sudirman.
Ganjil - Genap Bukan Kebijakan Permanen
Di tengah upaya menekan antrean, Pemprov Sulsel menerapkan sistem ganjil-genap untuk saat ini. Kebijakan tersebut disebut cukup efektif mengurai kepadatan kendaraan di sejumlah SPBU.
Meski demikian, Andi Sudirman menegaskan ganjil-genap bukan kebijakan permanen.
Kebijakan tersebut merupakan langkah sementara untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan BBM secara bergiliran sembari menunggu penyesuaian kuota.
"Ini sebenarnya bukan kebijakan permanen. Tetapi ketika dibutuhkan, maka kita mengambil langkah itu tidak lain adalah untuk mengurai antrean supaya tetap dapat semua," jelasnya.
Selain ganjil-genap, pembatasan jumlah pembelian juga menjadi salah satu opsi yang diterapkan sementara. Kebijakan tersebut akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan dan ketersediaan kuota BBM.
Pemprov Sulsel berencana mencoba penerapan ganjil-genap selama beberapa hari ke depan. Setelah situasi membaik dan penambahan kuota telah mendapatkan kepastian, kebijakan tersebut akan dievaluasi dan dilakukan relaksasi secara bertahap.
"Kita akan coba untuk beberapa hari dulu ke depan. Nanti setelah lihat situasinya dan kita akan meminta Pertamina sudah siap, baru kita mungkin normalisasi kembali, relaksasi," ujar Sudirman.
Sementara itu, Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Deny Sukendar mengatakan Pertamina terus melakukan penguatan suplai dan distribusi BBM untuk merespons lonjakan permintaan.
Untuk sementara, penyaluran BBM bersubsidi menjadi salah satu fokus untuk membantu mengurai antrean di SPBU. Kendaraan yang menggunakan non subsidi selama ini juga masih diperbolehkan mengisi pertalite.
"Kami tetap berupaya untuk menyalurkan BBM dan LPG ke seluruh lapisan masyarakat. Kami fokus ke dua hal. Yang pertama adalah penguatan suplai," kata Deny.
Ia menyebut lonjakan permintaan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir membuat Pertamina menambah pasokan ke terminal bahan bakar minyak (TBBM).
Pertamina juga menambah kapal untuk menjaga ketersediaan stok. Tak hanya dari sisi suplai, penguatan distribusi juga dilakukan dengan menambah armada mobil tangki dan memperpanjang jam operasional.
"Mobil tangki kami tambah, jam operasional kami tambah, juga dengan jam operasional SPBU. Ini tetap kami lakukan sampai nanti dengan adanya evaluasi bersama tim Satgas," ujarnya.
Pertamina bersama tim Satgas gabungan juga terus memantau kondisi antrean di lapangan. Deny menyebut kondisi di Kota Makassar mulai landai, tetapi pengawasan tetap dilakukan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
"Kami tidak lengah. Kami tetap berupaya di seluruh wilayah Provinsi Sulawesi Selatan," katanya.
Wilayah penyangga Makassar seperti Maros, Gowa, Takalar, Pangkep, hingga Bone juga menjadi perhatian Pertamina. Distribusi akan terus diperkuat untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi dan antrean panjang tidak kembali mengganggu aktivitas warga.
"Ini tetap menjadi perhatian dan kami berupaya untuk tetap memenuhi kebutuhan masyarakat dan menjaga kenyamanan agar tidak terjadi antrean yang tentu menyulitkan masyarakat dan kita semua," tutup Deny.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
Terkini
-
Masa Pensiun Lebih Terencana, BRI DPLK Mudah Dibuka lewat BRImo dan Berbonus
-
Cemburu Buta, Suami di Bone Tega Siksa dan Bakar Istri Hidup-hidup
-
Waspada Cuaca Ekstrem dan Angin Kencang di Sulsel hingga 17 September
-
Antrean BBM Mulai Berdampak ke Harga Pangan di Pasar Tradisional Makassar
-
Pekerja Telkom Akses Tewas Tertimpa Tembok Beton di Gowa