Muhammad Yunus
Senin, 07 September 2026 | 15:59 WIB
Kondisi Bendungan Lekopancing di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan mengering. Ribuan warga terpaksa mengalami krisis air bersih karena kekeringan tersebut [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Warga Panakkukang, Manggala, dan Rappocini di Makassar merasakan gerimis singkat pada Senin, 7 September 2026.
  • Keringnya Bendungan Lekopancing akibat kemarau panjang menurunkan pasokan air bersih bagi ribuan pelanggan.
  • BPBD Makassar menyalurkan 4.500 liter air bersih bagi warga Kelurahan Camba Berua pada Senin.

SuaraSulsel.id - Setelah berbulan-bulan dilanda kemarau, warga di sejumlah wilayah Kota Makassar akhirnya kembali merasakan tetes air dari langit.

Gerimis turun sekitar pukul 15.00 Wita pada Senin, 7 September 2026.

Hujan memang hanya berlangsung sekitar lima menit dan intensitasnya sangat ringan.

Namun, kemunculannya cukup berarti di tengah kondisi kekeringan yang masih melanda Makassar.

Langit Makassar sejak siang tampak diselimuti awan tebal. Tak lama kemudian, gerimis mulai membasahi rumah-rumah warga dan ruas jalan di sejumlah kawasan.

Kondisi tersebut terpantau di sejumlah wilayah Makassar, terutama Kecamatan Panakkukang, Manggala dan Rappocini.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, Rizky Yudha mengatakan awan hujan memang terbentuk secara lokal di tiga wilayah tersebut.

"Iya jadi kami lihat sebagian wilayah di Makassar, khususnya di Panakkukang, Manggala dan Rappocini terpantau ada awan hujan berskala lokal. Dilaporkan beberapa wilayah gerimis," kata Rizky Yudha saat dihubungi.

Rizky menjelaskan turunnya hujan di tengah musim kemarau bukan merupakan fenomena yang aneh.

Kondisi tersebut dapat terjadi ketika konvektivitas awan meningkat dan memicu pertumbuhan awan hujan.

Baca Juga: Gila! Harga Tiket Pesawat Makassar-Jakarta Tembus Rp6 Juta

Konvektivitas merupakan kemampuan atau intensitas pergerakan massa udara secara vertikal yang dapat memicu pembentukan dan pertumbuhan awan.

"Itu memang normal karena ada konvektivitas yang cukup tinggi sehingga awan tumbuh di sekitar Makassar," jelasnya.

Meski demikian, kemunculan gerimis tersebut belum menandakan kemarau panjang di Makassar segera berakhir.

"Kalau update hari ini, beberapa hari ke depan akan kembali berkurang potensi pembentukan awan," lanjut Rizky.

Bendungan Lekopancing Mengering

Gerimis yang turun selama beberapa menit itu datang ketika Makassar masih menghadapi persoalan serius terkait ketersediaan air.

Di Kabupaten Maros, Bendungan Lekopancing yang menjadi salah satu sumber air baku untuk wilayah Maros dan Kota Makassar masih berada dalam kondisi memprihatinkan.

Bendungan tersebut mengering akibat musim kemarau panjang. Kondisi itu telah terjadi sejak Juni 2026 dan disebut menjadi yang terparah dibandingkan situasi saat fenomena El Nino pada 2023.

Tinggi muka air di Bendungan Lekopancing bahkan telah mencapai minus 160 sentimeter (cm). Jauh di bawah batas normal.

Kondisi tersebut terlihat dari peil schaal atau papan indikator yang menunjukkan ketinggian air di saluran air baku.

Posisi muka air berada di bawah indikator berwarna biru, yang menandakan pasokan air baku berada pada level sangat minim.

Petugas pun harus membuka pintu air atau intake Bendungan Lekopancing hingga 90 cm. Langkah itu dilakukan untuk memastikan masih ada air yang dapat dialirkan menuju saluran air baku.

Kondisi Bendungan Lekopancing turut berdampak terhadap pasokan air bersih bagi sekitar 9.000 pelanggan PDAM Tirta Bantimurung Maros.

Sementara itu, pasokan air yang dapat dialirkan dari Bendung Lekopancing menuju Kota Makassar saat ini maksimal hanya sekitar 2.000 liter per detik.

Angka tersebut turun cukup signifikan dibandingkan kondisi normal yang dapat mencapai 3.600 hingga 4.000 liter per detik.

Krisis air pun semakin terasa di sejumlah wilayah Makassar. Tak hanya pasokan air dari perusahaan daerah air minum yang terbatas, sebagian sumur warga juga mulai mengering akibat kemarau yang berlangsung panjang.

Dampaknya bukan hanya dirasakan dalam pemenuhan kebutuhan air bersih. Suhu udara yang terasa semakin panas turut menambah berat kondisi warga yang berada di wilayah terdampak kekeringan.

Pemerintah Kota Makassar pun harus melakukan distribusi air bersih secara terbatas ke sejumlah kecamatan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

4.500 Liter Air untuk Warga Ujung Tanah

Di tengah kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar kembali menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang membutuhkan.

Pada Senin, 7 September 2026, sebanyak 4.500 liter air bersih didistribusikan ke Kelurahan Camba Berua, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar.

Air bersih tersebut diangkut menggunakan armada Kecamatan Ujung Tanah yang harus menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer menuju lokasi distribusi.

Bantuan itu diperuntukkan bagi 89 kepala keluarga atau sekitar 267 jiwa yang bermukim di wilayah RT 003/RW 003, Kelurahan Camba Berua.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muh Fadli mengatakan distribusi air bersih merupakan bentuk respons pemerintah terhadap kebutuhan warga yang terdampak keterbatasan air.

"Kami terus melakukan pendistribusian air bersih ke wilayah yang membutuhkan, khususnya masyarakat yang terdampak kondisi kekeringan," ujar Muh Fadli.

Ia menegaskan BPBD Makassar akan terus memantau kondisi di sejumlah wilayah untuk memastikan warga yang mengalami kesulitan mendapatkan akses air bersih dapat memperoleh bantuan.

Pendistribusian dilakukan berdasarkan laporan serta kebutuhan masyarakat di lapangan.

Pemerintah kota juga terus berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan kelurahan agar bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran.

Muh Fadli mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak selama kondisi kekeringan masih berlangsung.

Warga yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih juga diminta segera melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah setempat agar dapat ditindaklanjuti sesuai kebutuhan.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More