Muhammad Yunus
Selasa, 01 September 2026 | 15:16 WIB
Ilustrasi kekeringan [SuaraSulsel.id/Antara]
Baca 10 detik
  • Kemarau panjang dan El Nino kuat memicu krisis air serta pemadaman listrik di Sulawesi Selatan.
  • BMKG menyatakan operasi modifikasi cuaca belum dapat diterapkan di wilayah barat karena kelembapan udara belum memenuhi syarat.
  • Pemerintah menyalurkan air melalui pipanisasi, sementara wilayah timur masih berpotensi dilakukan hujan buatan untuk waduk energi.

SuaraSulsel.id - Kemarau panjang mulai menekan kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.

Selain krisis air bersih yang membuat warga kesulitan mendapatkan pasokan air, pemadaman listrik bergilir juga terjadi di sejumlah daerah.

Di Kota Makassar, Kabupaten Gowa hingga Maros, pemadaman listrik telah berlangsung lebih dari sepekan. Dalam sekali pemadaman, listrik dapat padam hingga empat jam.

Kondisi tersebut menambah beban masyarakat yang sebelumnya sudah menghadapi dampak kekeringan.

Di sejumlah wilayah, warga harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara pasokan listrik yang terputus turut mengganggu aktivitas rumah tangga maupun usaha.

Salah satu faktor yang turut memengaruhi pasokan listrik adalah berkurangnya ketersediaan air pada pembangkit yang mengandalkan sumber daya air.

Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan meminta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan sebagai salah satu langkah mengantisipasi kekeringan.

Namun, upaya tersebut tidak bisa dilakukan begitu saja.

BMKG menyebut tidak semua awan dapat disemai. Operasi modifikasi cuaca hanya bisa dilakukan ketika terdapat potensi awan yang memenuhi persyaratan tertentu untuk menghasilkan hujan.

Baca Juga: Listrik Sulsel Mulai Dipadamkan, Pemprov Sulsel Terima Laporan Penyebabnya

Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil mengatakan pelaksanaan OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan pertumbuhan awan di wilayah sasaran.

Sebelum melakukan penyemaian, BMKG terlebih dahulu harus memastikan kondisi udara dan kandungan uap air memungkinkan terbentuknya awan yang dapat disemai.

"Apakah udara yang ada di situ sehat untuk membentuk awan, itu dulu," kata Nasrol saat dikonfirmasi, Selasa, 1 September 2026.

Ia menjelaskan kondisi atmosfer di sejumlah wilayah Sulsel saat ini belum mendukung pelaksanaan OMC. Wilayah tersebut antara lain Makassar hingga Enrekang, Pinrang, serta kawasan Bulukumba.

Potensi uap air dan tingkat kelembapan di wilayah tersebut belum memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian awan.

"Di daerah Sulawesi Selatan seperti Makassar kemudian sampai dengan Enrekang, Pinrang, serta dari Bulukumba itu potensi uap air untuk kelembapan udaranya tidak memenuhi syarat untuk OMC. Awan tidak bisa disemai," jelasnya.

Artinya, meski pemerintah daerah membutuhkan hujan untuk mengatasi kekeringan, teknologi hujan buatan tidak dapat langsung digunakan apabila kondisi awan tidak mendukung.

Masih Ada Peluang di Wilayah Timur

Kondisi berbeda ditemukan di sejumlah wilayah Sulsel bagian timur.

Nasrol mengatakan wilayah Luwu, sebagian Wajo dan Toraja masih memiliki potensi yang memungkinkan untuk dilakukan OMC.

Salah satu sasarannya adalah membantu menambah pasokan air pada waduk yang berperan penting bagi sektor energi.

Wilayah tersebut termasuk kawasan yang berkaitan dengan sumber air untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Bakaru dan Danau Poso.

"Di wilayah timur, seperti di Luwu, sedikit di Wajo, Toraja untuk pengisian waduk-waduk seperti di PLTA Bakaru, Danau Poso itu masih memungkinkan untuk dilakukan OMC untuk kebutuhan energi kita," ujarnya.

Sementara untuk wilayah barat Sulsel, terutama daerah yang mengalami kekeringan dan membutuhkan pasokan air untuk pertanian maupun permukiman, penanganan yang dilakukan saat ini lebih diarahkan pada distribusi air.

Salah satunya melalui pipanisasi untuk menyalurkan air dari sumber mata air menuju lahan pertanian dan permukiman.

"Pipanisasi untuk lahan-lahan pertanian dan permukiman yang butuh air, untuk isi tangki dari pinggir-pinggir sumber mata air," katanya.

BMKG masih terus memantau pertumbuhan awan di sejumlah wilayah Sulsel. Jika ditemukan awan yang memenuhi persyaratan, penyemaian dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi atmosfer.

El Nino di Sulsel Sangat Kuat

Kondisi kekeringan yang terjadi tahun ini tidak hanya dipengaruhi oleh musim kemarau. BMKG menyebut fenomena El Nino turut memperkuat kondisi kering yang terjadi di Sulsel.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Rekun Matandung mengatakan Sulsel saat ini berada pada periode puncak musim kemarau yang berlangsung sekitar Agustus hingga September.

Pada saat bersamaan, El Nino berada pada kategori kuat hingga sangat kuat.

"Saat ini kita di kondisi puncak musim kemarau Agustus dan September. Kita sudah kemarau, baru saat ini ada El Nino dengan kategori kuat," kata Rekun.

Ia menjelaskan kondisi tersebut membuat kekeringan tahun 2026 berpotensi lebih ekstrem dibandingkan yang terjadi pada 2023.

Kekeringan pada 2023 juga pernah terjadi di tengah musim kemarau. Namun, intensitas El Nino tahun ini diperkirakan lebih kuat sehingga dampaknya terhadap kondisi kering di Sulsel menjadi lebih besar.

"Jadi kekeringan yang terjadi di tahun 2026 lebih kuat dibandingkan 2023 karena untuk kategori El Nino juga itu diprediksi kuat hingga sangat kuat," ungkapnya.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik yang berdampak terhadap pola atmosfer dan berkurangnya potensi hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Di sisi lain, Sulsel memang sedang berada dalam periode monsun Australia yang membawa massa udara relatif kering. Kehadiran El Nino kemudian memperkuat kondisi tersebut.

"Saat ini kita lagi musim kemarau atau monsoon Australia yang membawa udara kering, ditambah El Nino dia tambah kering. Jadi sebetulnya yang perlu diantisipasi itu El Nino di musim kemarau," ujarnya.

Kondisi itu membuat puncak kemarau tahun ini menjadi periode yang perlu diwaspadai. Kekeringan tidak hanya berdampak pada ketersediaan air untuk masyarakat dan pertanian, tetapi juga berpotensi memengaruhi sektor energi yang bergantung pada ketersediaan air.

"Apalagi sekarang ini dan beberapa bulan ke depan berada di puncaknya. Itu bisa dikatakan kekeringan ekstrem karena itu tadi El Nino di puncak musim kemarau," jelas Rekun.

Meski demikian, BMKG memperkirakan pengaruh El Nino terhadap kondisi cuaca Sulsel mulai berkurang memasuki pertengahan Oktober.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More