Muhammad Yunus
Selasa, 18 Agustus 2026 | 17:16 WIB
Guru SD di Kabupaten Jeneponto mengaku jadi korban pengeroyokan tiga orang tua murid [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Guru SD berinisial NU dan orang tua siswa di Jeneponto saling lapor polisi setelah terlibat keributan.
  • Peristiwa keributan yang dipicu dugaan kekerasan terhadap siswa tersebut terjadi di SDN 14 Tamalatea pada Agustus 2026.
  • Polres Jeneponto saat ini masih menyelidiki kedua laporan tersebut untuk mengumpulkan keterangan dan barang bukti.

Perkara tersebut bermula dari informasi yang diterima orang tua siswa mengenai tindakan pembinaan atau pendisiplinan yang diduga dilakukan NU terhadap seorang siswa.

Informasi awal yang diterima polisi menyebut anak tersebut kemudian menceritakan kejadian itu kepada ibunya. Sang ibu selanjutnya mendatangi sekolah dan terjadi keributan dengan guru yang bersangkutan.

Belakangan, orang tua siswa juga membuat laporan resmi kepada polisi.

Orang tua siswa bernama Hj Rahmawati melaporkan NU ke SPKT Polres Jeneponto pada Rabu, 12 Agustus 2026. Laporan itu teregistrasi dengan nomor LP/B/552/VIII/2026/SPKT/POLRES JENEPONTO/POLDA SULAWESI SELATAN.

Rahmawati mengaku laporan tersebut dibuat setelah mengetahui anaknya, Arfan diduga mengalami kekerasan saat berada di sekolah pada Senin, 10 Agustus 2026.

Kata Rahmawati, informasi awal mengenai dugaan kekerasan itu diperolehnya dari sesama wali murid ketika dirinya sedang berjualan di pasar.

"Awalnya saya di pasar menjual dan saya dipanggil oleh salah satu orang tua murid. Katanya anaknya juga ditekan dan diancam oleh guru ini," kata Rahmawati.

Rahmawati mengaku sempat tidak percaya dengan informasi tersebut. Namun setelah mendapatkan penjelasan dari wali murid lainnya, dia kemudian menanyakan langsung kepada anaknya.

Dari cerita yang disampaikan Arfan kepada ibunya, Rahmawati mengklaim anaknya mengalami tindakan fisik saat berada di sekolah.

Baca Juga: Dugaan Asusila Guru SD di Patimpeng Bone Disorot, SEMMI: Tolak Damai !

"Arfan dicekik, ditarik dan diseret masuk ke kelas, baru ditempeleng (ditampar)," ujarnya.

Rahmawati juga mengaku mendapat informasi bahwa guru tersebut menyampaikan pesan yang membuat dirinya tersulut emosi. Pesan itu seolah menantangnya untuk datang ke sekolah dan menyebut guru tersebut tidak takut meski orang tua siswa memiliki keluarga yang bekerja sebagai anggota TNI atau Polri.

Rahmawati kemudian mendatangi sekolah untuk meminta penjelasan secara langsung. Namun, pertemuan tersebut justru berakhir dengan keributan.

Rahmawati mengaku terjadi aksi saling dorong setelah dirinya merasa akan diserang lebih dahulu oleh guru tersebut.

"Sempat saya bertanya, 'Kau cari saya, kau yang pukul anakku?' Tiba-tiba dia mau hantam saya lebih dulu sehingga saya merespons. Setelah itu saya dorong dan langsung terjatuh," ungkapnya.

Rahmawati juga membantah informasi yang menyebut dirinya bersama dua orang lainnya mengeroyok guru tersebut.

Load More