- Herman, pedagang asal Surabaya, rutin menjual bendera di Makassar setiap Agustus sejak 2017 dan meraup omzet puluhan juta rupiah.
- Saidil Ammar, warga pendatang asal Sukabumi yang menetap di Makassar, menjual bendera buatan istrinya pada siang hari dan sari laut saat malam.
- Kedua pedagang tersebut memanfaatkan momentum perayaan kemerdekaan Republik Indonesia di Makassar untuk mendapatkan tambahan penghasilan keluarga.
SuaraSulsel.id - Menjelang 17 Agustus, Jalan AP Pettarani, Urip Sumoharjo dan Perintis Kemerdekaan Makassar mulai berubah warna.
Bendera Merah dan putih bergelantungan di antara deretan lapak pedagang. Ada bendera kecil untuk kendaraan, bendera untuk halaman rumah, hingga ukuran besar yang dipesan khusus.
Di balik semarak merah putih itu, ada orang-orang yang melihat Agustus bukan sekadar bulan perayaan kemerdekaan. Bagi mereka momentum itu juga menjadi musim untuk mengais rezeki.
Salah satunya Herman, 48 tahun.
Herman bukan warga Makassar. Ia berasal dari Surabaya. Namun, setiap memasuki bulan Agustus, ia kembali datang ke Makassar membawa dagangan bendera.
Sejak 2017, rutinitas itu terus dilakukannya.
"Sudah sejak 2017 ke sini (jual bendera)," kata Herman, Senin, 10 Agustus 2026.
Bendera-bendera yang dijual Herman didatangkan dari Surabaya menggunakan kapal laut. Setibanya di Makassar, ia kemudian membuka lapak di Jalan AP Pettarani.
Bagi Herman dan keluarganya, berjualan berpindah dari satu kota ke kota lain bukan hal baru.
Baca Juga: Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Mereka memang terbiasa berkeliling mengikuti momentum dan peluang dagang yang dianggap menjanjikan.
"Memang kami sering berkeliling dari kota ke kota untuk jualan. Makassar ini salah satu yang bagus karena cuannya lumayan lah," ungkapnya.
Keluarganya pun ikut berpencar mengikuti lokasi jualan masing-masing. Herman memilih Makassar, sementara anggota keluarganya berjualan di kota lain.
Istrinya, misalnya, berada di Surabaya. Sementara anaknya memilih Solo dan Yogyakarta sebagai lokasi berjualan.
Dengan cara itu, keluarga Herman memanfaatkan momentum yang sama di beberapa kota sekaligus.
Makassar sendiri bukan tanpa alasan dipilih. Setelah beberapa kali datang, Herman melihat pasar bendera di kota ini cukup menjanjikan.
Setiap menjelang perayaan kemerdekaan, permintaan terhadap bendera kembali muncul.
Harga yang ditawarkan Herman cukup beragam. Mulai Rp25 ribu hingga Rp175 ribu. Tergantung ukuran dan jenis bendera.
Ia biasanya mulai berjualan pada awal Agustus. Lapaknya bertahan hingga sekitar tanggal 20-an, ketika euforia perayaan kemerdekaan mulai mereda.
Setelah itu, Herman kembali berkemas.
Bendera-bendera yang tersisa dibereskan. Barang dagangan disiapkan untuk perjalanan pulang, dan ia kembali ke Surabaya.
Sampai tahun berikutnya, ketika bulan Agustus kembali tiba dan perjalanan yang sama kembali dimulai.
Dari satu musim jualan, omzet Herman bahkan bisa mencapai sekitar Rp42 juta.
"Ya lumayanlah. Tahun kemarin Rp42 juta, kalau sekarang belum ada bayangan," tambahnya.
Angka itu tentu belum seluruhnya menjadi keuntungan. Ada ongkos pengiriman barang, perjalanan, kebutuhan selama berada di Makassar, dan berbagai biaya lainnya.
Namun, hasil tersebut cukup menjadi alasan bagi Herman untuk terus kembali.
Di jalan yang berbeda, ada pula cerita Saidil Ammar, 37 tahun.
Berbeda dengan Herman yang datang dari Surabaya khusus menjelang musim kemerdekaan, Saidil sudah menetap di Makassar sejak 2021.
Lelaki asal Sukabumi itu memanfaatkan Agustus dengan cara yang sedikit berbeda.
Siang hari di jalan Urip Sumoharjo, ia menjual bendera. Malam harinya, pekerjaan berganti. Saidil berjualan sari laut.
Dua pekerjaan tersebut dijalaninya dalam satu hari untuk menambah penghasilan.
Bendera yang dijual Saidil pun memiliki cerita tersendiri. Sebagian besar tidak dibuat oleh pabrik, melainkan dijahit sendiri oleh istrinya.
Kain merah dan putih itu dipotong, dijahit, kemudian dijadikan bendera dengan berbagai ukuran sesuai permintaan pembeli.
Pesanannya pun terkadang tidak biasa.
Saidil tahun ini menerima pesanan bendera dengan panjang mencapai 81 meter. Bendera tersebut dipesan untuk dikibarkan di gunung.
"Kalau pesanan ukurannya macam-macam. Sekarang ini ada yang pesan sampai 81 meter untuk dikibarkan di gunung," ujar Saidil.
Namun, dari berbagai ukuran yang dijual, justru bendera kecil yang paling banyak dicari.
Bendera itu biasanya dipasang di kendaraan, menjadi aksesori sederhana yang ikut menyemarakkan suasana kemerdekaan di jalanan.
"Yang paling laku itu bendera kecil untuk kendaraan," katanya.
Dari jualan bendera, Saidil mengaku bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu dalam sehari.
"Lumayan. sehari bisa dapat sekitar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu kalau lagi laku," ujar dia.
Bagi Saidil, hasil tersebut menjadi tambahan penting bagi penghasilan keluarga. Apalagi setelah matahari tenggelam, ia masih kembali bekerja menjual sari laut.
Herman dan Saidil memang datang dari cerita yang berbeda.
Herman datang dari Surabaya dan hanya berada di Makassar selama musim kemerdekaan. Bersama keluarganya, ia berpencar dari kota ke kota, mencari tempat yang dianggap memiliki pasar dan keuntungan menjanjikan.
Sementara Saidil sudah menjadikan Makassar sebagai tempat tinggal. Ia menggabungkan dua pekerjaan sekaligus. Menjual bendera pada siang hari dan sari laut pada malam hari.
Namun, keduanya bertemu pada satu hal.
Merah putih yang bagi banyak orang menjadi simbol perayaan kemerdekaan, bagi mereka juga merupakan jalan untuk mencari penghidupan.
Ketika warga mulai mencari bendera untuk rumah dan kendaraan, Herman dan Saidil justru melihat peluang.
Di bawah terik matahari Jalan AP Pettarani, bendera-bendera itu terus bergoyang diterpa angin.
Sebentar lagi, ketika Agustus berakhir, sebagian lapak akan menghilang.
Herman akan kembali ke Surabaya. Saidil kembali pada rutinitasnya menjual sari laut di malam hari.
Namun, merah putih telah meninggalkan sesuatu bagi mereka. Bukan hanya semarak kemerdekaan, tetapi juga rezeki yang datang setiap tahun.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bebas dari Paving Block! 6 Km Jalan Tamalanrea Raya Makassar Dihotmix
-
Siang Jual Bendera, Malam Jualan Sari Laut: Cerita Pedagang Musiman Menjemput Rezeki Kemerdekaan
-
Hari Pramuka ke-65, Gubernur Sulsel dan Mentan RI Lepas Ribuan Peserta Jalan Sehat di Bone
-
Danantara Housing Expo 2026 Hadirkan Kolaborasi Himbara, BRI Dorong Kepemilikan Rumah Masyarakat
-
Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan