- Film independen SOLATA karya sutradara Ichwan Persada hanya meraih lima belas ribu penonton di bioskop Indonesia.
- Sineas Ichwan Persada menerima penghargaan internasional Golden FEMI Film Festival di Sofia, Bulgaria, pada tanggal 6 Juni.
- Film tentang pendidikan di Toraja tersebut mendapat apresiasi tinggi dan melanjutkan tur pemutaran ke berbagai negara Eropa.
Lewat cerita sederhana tentang pendidikan, keluarga, dan penerimaan, film itu justru berbicara dalam bahasa yang dipahami banyak orang. Termasuk mereka yang tidak mengenal Indonesia.
"Film ini sebenarnya tentang kegagalan dan bagaimana seseorang belajar menerima kembali kehidupannya. Nilai itu ternyata universal sehingga bisa diterima siapa saja," ujar Ichwan.
Setelah pemutaran di Bulgaria, tim SOLATA melanjutkan tur ke Bratislava Slovakia, Budapest Hungaria, hingga Ankara dan Istanbul Turki.
Di Bratislava dan Budapest, pemutaran khusus difasilitasi Kedutaan Besar Republik Indonesia.
Ichwan mengaku tak menyangka film yang diproduksi dengan segala keterbatasan itu justru mendapat sambutan hangat dari masyarakat lokal.
"Saya sangat tersentuh melihat bagaimana apresiasi terhadap film ini. Mereka terkesan dengan nilai-nilai yang dibawa film ini meski berasal dari budaya yang sangat berbeda," katanya.
Bahkan salah seorang sutradara sekaligus sinematografer yang hadir di Bratislava menyatakan ketertarikannya untuk memproduksi film bersama di Indonesia.
Sementara di Budapest, seorang penonton bernama Marta yang merupakan bagian dari UNESCO Artist for Peace tak kuasa menahan air mata usai menyaksikan SOLATA.
Menurut Ichwan, momen-momen seperti itulah yang membuatnya kembali percaya pada kekuatan sinema.
Baca Juga: Gubernur Sulsel Ground Breaking Ruas Rantepao-Pangala-Baruppu
"Saya kira kekuatan film memang mampu menjangkau wilayah yang sebelumnya tidak bisa dijangkau. Orang yang tidak mengerti bahasa maupun budaya kita ternyata tetap bisa memahami emosi yang ada di dalam cerita."
Empat bulan bersama anak-anak Toraja
Kesuksesan itu tak datang begitu saja.
Ichwan menghabiskan hampir empat bulan di Toraja demi mempersiapkan produksi film tersebut.
Dua bulan pertama dihabiskan hanya untuk melatih enam anak yang menjadi pemeran utama.
Mereka bukan aktor profesional, melainkan anak-anak yang memang tinggal di wilayah Ollon.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Bupati Gowa Diperiksa Kasus Seragam Gratis Rp16 Miliar, Om Basri Belum Tersentuh?
-
KUR BRI Berperan dalam Pengembangan Gula Merah di Sumenep yang Kini Rambah Berbagai Daerah
-
Film Asal Toraja Ini Panen Pujian di Eropa
-
Misteri Dana Rp5 Miliar Penggusuran Lahan Laoli, DPRD Luwu Timur Tak Merasa Menganggarkan
-
Warga Semangat Dukung Program Pilah Sampah, Tempat Sampah Depan Rumah Malah Dicuri