Muhammad Yunus
Rabu, 22 Juli 2026 | 07:06 WIB
Diskusi Program Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) Sulawesi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan sektor rumput laut di Unhas, Selasa 21 Juli 2026 [SuaraSulsel.id/Muhammad Yunus]
Baca 10 detik
  • Mikroplastik mulai menjadi persoalan serius yang mengancam keberlanjutan industri rumput laut Indonesia
  • Mikroplastik juga ditemukan pada sampel rumput laut, kerang yang menempel pada tali budidaya, hingga ikan yang hidup di sekitar kawasan budidaya
  • Keuntungan terbesar justru dinikmati sektor hilir yang mengolah produk menjadi barang bernilai tinggi

"Kalau kita ingin belajar tentang rumput laut yang berkelanjutan, laut harus bersih. Peneliti sudah mengetahui mikroplastik ada di mana-mana, bahan kimia juga sudah ada di mana-mana. Limbah industri bahkan menyebabkan kematian massal rumput laut," katanya.

Arman menegaskan, tanpa ekosistem laut yang sehat mustahil menghasilkan produk yang sehat dan berkelanjutan.

"Petani harus sejahtera. Tidak ada konservasi jika nelayan miskin. Nilai tambah harus benar-benar dirasakan masyarakat paling bawah," ujarnya.

Peneliti Unhas Temukan Mikroplastik di Area Budidaya

Kekhawatiran para petani diperkuat hasil penelitian yang dilakukan peneliti mikroplastik Universitas Hasanuddin, Shinta Werorilangi.

Menurut Shinta, mikroplastik saat ini telah ditemukan hampir di seluruh perairan Indonesia.

"Semua wilayah perairan pasti ada mikroplastik. Dengan penggunaan berbagai material plastik seperti botol plastik maupun tali plastik pada budidaya rumput laut, memang mikroplastik berada di sekitar kawasan budidaya," jelasnya.

Dalam penelitiannya, tim mengambil sampel sedimen di bawah bentangan rumput laut dan membandingkannya dengan lokasi jauh sekitar dua kilometer dari area budidaya.

Hasilnya menunjukkan kandungan mikroplastik di kawasan budidaya lebih tinggi dibandingkan lokasi yang jauh dari aktivitas budidaya.

Baca Juga: IKA Perikanan Unhas: Nelayan Harus Dilibatkan Sistematis dalam Penyelamatan Laut

Mikroplastik juga ditemukan pada sampel rumput laut, kerang yang menempel pada tali budidaya, hingga ikan yang hidup di sekitar kawasan budidaya.

Shinta mengingatkan persoalan ini berpotensi menjadi hambatan perdagangan internasional. Apabila standar mutu rumput laut nantinya memasukkan indikator kandungan mikroplastik.

"Kalau kualitas rumput laut sudah memasukkan indikator mikroplastik, tentu akan berdampak pada ekspor," ujarnya.

Penelitian yang dilakukan pada 2024 di Kabupaten Jeneponto, salah satu sentra produksi rumput laut nasional, juga menemukan keberadaan mikroplastik.

Namun, menurutnya, sumber pencemaran tersebut masih perlu ditelusuri lebih jauh melalui identifikasi jenis polimer.

"Apakah (mikroplastik) berasal dari alat budidaya atau dari luar kawasan, itu masih perlu diteliti. Banyak sekali jenis polimer. Ada yang berasal dari aktivitas budidaya, ada juga yang bukan. Mikroplastik berasal dari banyak sumber, mulai dari sampah rumah tangga hingga terbawa arus laut dari daerah lain," jelasnya.

Load More