- Program PAIR Sulawesi mendanai riset kolaboratif Australia-Indonesia senilai Rp120 miliar untuk menghasilkan kebijakan nyata bagi masyarakat.
- Pelaksanaan riset melibatkan universitas serta pemerintah daerah di Sulawesi agar solusi yang dihasilkan relevan dengan kebutuhan lapangan.
- Hasil penelitian telah diimplementasikan sebagai dasar regulasi daerah, seperti kebijakan perkeretaapian dan perencanaan wilayah maritim Sulawesi Selatan.
Fokus Hilirisasi, Bukan Sekadar Publikasi
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan Adziman, mengatakan mekanisme agar hasil riset menjadi kebijakan telah dibangun sejak proposal penelitian disusun.
Menurutnya, setiap proposal PAIR Sulawesi wajib mencantumkan mitra pemerintah daerah yang akan menggunakan hasil penelitian.
"Kita sudah menentukan sejak awal siapa mitra pemerintah daerahnya. Jadi penelitian memang disiapkan agar hasilnya bisa diterapkan," katanya.
Ia menegaskan penelitian seharusnya tidak dilakukan jika tidak mampu menyelesaikan persoalan masyarakat.
"Kalau riset tidak menyelesaikan masalah di daerah, sebaiknya jangan dilakukan. Begitu juga kalau terlalu lama diterapkan, manfaatnya menjadi berkurang."
Fauzan mencontohkan sejumlah rekomendasi PAIR Sulawesi telah menjadi acuan penyusunan kebijakan, termasuk Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan mengenai perencanaan wilayah maritim dan perikanan yang kini menjadi peta jalan pembangunan.
Menurutnya, keberlanjutan riset juga ditentukan oleh keterlibatan perguruan tinggi lokal.
"Dalam setiap proyek harus ada kampus lokal yang terlibat karena mereka yang paling dekat dengan masyarakat. Presiden juga ingin melihat hasil riset yang benar-benar dirasakan masyarakat."
Baca Juga: Kisah Rosyidah, Mantan Pekerja Migran yang Sukses Bangun UMKM Olahan Laut di Indramayu
Ia menegaskan pemerintah kini mengubah orientasi pendanaan riset dari sekadar menghasilkan publikasi ilmiah menjadi hilirisasi inovasi yang bekerja sama dengan industri.
"Indikator utama adalah dampaknya kepada masyarakat. Ujungnya, pengembangan sains harus mampu menumbuhkan kekuatan ekonomi."
Fauzan menyebut pemerintah juga terus memperkuat ekosistem riset nasional. Tahun ini terdapat sekitar 118 ribu proposal penelitian dari 2.050 perguruan tinggi, sehingga persaingan pendanaan semakin ketat.
Selain itu, pemerintah terus mendorong berbagai riset strategis seperti pengembangan rumput laut, integrasi PLTS di wilayah kepulauan, tata kelola pelabuhan.
Sistem peringatan dini cuaca bagi nelayan, perubahan iklim, ketahanan bencana di Sulawesi, pengelolaan air tanah, hingga pariwisata alam yang inklusif.
"Masalah harus berasal dari masyarakat dan hasil riset harus kembali kepada masyarakat."
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Tinggalkan Keluarga 3 Tahun, Ini Alasan Emosional Darije Kalezic Kembali ke PSM Makassar
-
Bukan Sekadar Publikasi, Riset Rp120 Miliar Australia-Indonesia Ini Wajib Selesaikan Masalah Rakyat
-
5 Fakta Menstruasi Wajib Diketahui Remaja Putri, Jangan Lagi Percaya Mitos!
-
Tim SAR Temukan Satu Jenazah Diduga Korban KM Nurul Salsa
-
Kepala Ditutup Tangan Diborgol, Begini Proses Pemindahan 79 Napi Paling Berbahaya ke Nusakambangan