- BPBD Kota Makassar melaporkan 50.342 warga di enam kecamatan terdampak kekeringan akibat ketergantungan pada sumber air tanah.
- Sebanyak 173 titik lokasi di 27 kelurahan mengalami krisis air bersih sejak Sabtu, 11 Juli 2026.
- BPBD mengerahkan personel serta bantuan logistik air untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan selama musim kemarau.
SuaraSulsel.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menyebut sebanyak 50.342 warga yang tersebar di enam kecamatan dari total 15 kecamatan di kota itu berpotensi mengalami dampak kekeringan pada musim kemarau.
"Berdasarkan hasil asesmen BPBD Kota Makassar, terdapat sekitar lima puluh ribuan jiwa yang berpotensi terdampak bencana kekeringan," ujar Kepala BPBD Makassar Fadli Tahar di Makassar, Sabtu 11 Juli 2026.
Dari jumlah tersebut, lanjut dia, diperkirakan sejumlah warga mulai merasakan dampak secara langsung kekeringan, terutama mereka yang selama ini mengandalkan air tanah sebagai satu-satunya sumber air bersih.
Berdasarkan hasil kajian cepat, kata dia, terdapat 173 titik lokasi terdampak kekeringan tersebar di enam kecamatan yaitu Kecamatan Ujung Tanah dengan lima kelurahan terdampak di 17 titik.
Kemudian Kecamatan Tallo dengan empat kelurahan di 36 titik. Lalu Kecamatan Biringkanaya dengan empat kelurahan di 58 titik.
Disusul Kecamatan Tamalanrea dengan enam kelurahan dengan 27 titik, Kecamatan Panakukang dengan 6 titik, dan Kecamatan Manggala dengan empat kelurahan di 29 titik.
Total terdampak sebanyak 27 kelurahan. Dari jumlah itu 12.717 rumah tinggal dengan 50.342 jiwa dari 14.564 Kepala Keluarga (KK) mulai merasakan kekeringan.
Merespons hal tersebut pihaknya melakukan intervensi penanganan dengan prioritas untuk masyarakat yang bergantung pada sumber air tanah, karena kelompok inilah yang mengalami penurunan ketersediaan air paling signifikan.
Upaya yang kini dilakukan menyiapkan armada mobil bak terbuka empat unit, penyediaan 57 tandon air dan empat pompa mesin air, serta 180 personel diturunkan membantu warga.
Baca Juga: Jukir di Makassar Pukul Pengendara Karena Cuma Bayar Parkir Rp2.000
Sementara wilayah yang masih memperoleh pasokan air dari jaringan PDAM masih berada dalam kondisi relatif aman dan belum menjadi prioritas utama penyaluran bantuan air bersih.
Meski demikian, kata dia, kondisi tersebut terus dipantau secara intensif. Berdasarkan perkembangan cuaca dan kondisi sumber air baku, cadangan air PDAM diperkirakan akan terus mengalami penurunan.
"Apabila kondisi cuaca kering seperti saat ini terus berlanjut, maka cadangan air PDAM diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 30 hari ke depan. Untuk itu langkah antisipatif dan kesiapsiagaan terus kami lakukan untuk menghindari meluasnya dampak kekeringan terhadap masyarakat," ucap Fadli Tahar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Rudy Masud Senyum Semringah Bersama Istri di Singapura, Media Asing: Rakyatnya Sesak Nafas
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
Pilihan
-
Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
-
Krisis! Kelangkaan BBM Meluas Tak Hanya Bali, Antrean Berjam-jam
-
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud Bungkam usai Viral Sarapan di Singapura
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
Terkini
-
Puluhan Ribu Kasus ISPA Tercatat di Sultra, Warga Kolaka Diminta Kurangi Aktivitas Luar Ruangan
-
Bupati Gowa Husniah Talenrang Resmi Dicopot Kemendagri, Ini Sosok Penggantinya
-
Dari Sabrina hingga BRImo, Inovasi Layanan BRI Berbuah 36 Penghargaan
-
Anak Buah Bahlil Ungkap Biang Kerok Antrean BBM di Bali: Jangkar Kapal Tersangkut
-
Wajah Baru Jalan Burung-Burung ke Bili-Bili Gowa, Kini Lebih Cantik dan Penuh Warna