Muhammad Yunus
Senin, 29 Juni 2026 | 09:00 WIB
Ilustrasi: Sejumlah sekolah di Sulawesi Selatan mulai kehilangan murid baru karena jumlah anak usia sekolah terus menyusut [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • UPTD SD Negeri 163 Barru di Sulawesi Selatan hanya menerima tiga murid baru pada tahun ajaran 2026/2027.
  • Penyebab utama minimnya murid adalah penurunan jumlah anak usia sekolah akibat rendahnya angka kelahiran di wilayah tersebut.
  • Fenomena serupa terjadi di berbagai wilayah Sulawesi Selatan, menyebabkan sekolah berjuang mempertahankan operasional pendidikan meski peminat sangat sedikit.

Bagi para guru, sedikitnya jumlah siswa bukan alasan untuk mengurangi kualitas pembelajaran.

Justru dengan jumlah murid yang sedikit, perhatian kepada setiap anak dapat diberikan secara lebih intensif.

Dedikasi mereka bahkan tidak berhenti di ruang kelas. Untuk memastikan seluruh siswa tetap memperoleh pendidikan, para guru kerap menjemput dan mengantar anak-anak menggunakan sepeda motor dari rumah menuju sekolah, kemudian mengantarkannya kembali setelah kegiatan belajar selesai.

Langkah tersebut dilakukan agar tidak ada siswa yang absen hanya karena terkendala jarak atau transportasi.

Fenomena minimnya peserta didik baru ternyata tidak hanya terjadi di tingkat sekolah dasar.

Pada pelaksanaan SPMB SMA dan SMK Negeri di Sulawesi Selatan, sejumlah sekolah juga tercatat tidak memperoleh pendaftar melalui jalur domisili, afirmasi, maupun mutasi.

Sekolah-sekolah tersebut tersebar di Kabupaten Enrekang, Toraja Utara, Tana Toraja, Takalar, Gowa, Pangkep, Luwu, Luwu Utara, Kepulauan Selayar, hingga Sinjai.

Di Kabupaten Pangkep bahkan terdapat 11 SMA Negeri dan dua SMK Negeri yang tidak memiliki pendaftar pada jalur tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan, Iqbal Najamuddin menjelaskan sebagian sekolah memang tidak membuka pendaftaran secara daring karena berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang masih mengalami keterbatasan jaringan internet.

Baca Juga: Disdik Sulsel Dukung Kantin Sekolah Kelola MBG

"Itu memang daerah-daerah yang tidak kami masukkan dalam sistem pendaftaran online karena berada di wilayah 3T. Pendaftarannya dilakukan secara offline, tetapi memang ada sekolah yang minim pendaftar," ujar Iqbal, Sabtu, 27 Juni 2026.

Ia mencontohkan kondisi di SMKN 1 Luwu. Meski memiliki fasilitas praktik yang lengkap, sekolah tersebut tetap kesulitan mendapatkan siswa baru karena letaknya cukup jauh dari permukiman warga.

Selain itu, jumlah anak usia sekolah di sekitar lokasi juga semakin sedikit.

"Peralatannya lengkap, tetapi jarak sekolah cukup jauh. Warga yang tinggal di sekitar situ anak-anaknya sudah lulus semua, sementara yang usianya sudah cukup masuk SMA atau SMK sudah tidak ada lagi," katanya.

Menurut Iqbal, pemerintah daerah sebenarnya pernah mengusulkan agar sekolah dengan jumlah peserta didik yang sangat minim dialihfungsikan menjadi jenjang pendidikan lain atau bahkan ditutup. Namun usulan tersebut mendapat penolakan dari masyarakat.

"Warga di sana menolak sekolahnya ditutup. Tahun lalu siswa barunya hanya sekitar 10 orang padahal fasilitasnya lengkap," ujarnya.

Load More