- Ketua Asita Sulsel, Didi L Manaba, menyatakan kenaikan harga tiket pesawat menurunkan minat kunjungan wisatawan domestik ke Sulawesi Selatan.
- Pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan biaya operasional penerbangan meningkat dan memicu pengurangan frekuensi jadwal terbang oleh maskapai.
- Kondisi ini berdampak negatif bagi pelaku usaha perhotelan, restoran, dan UMKM akibat penurunan mobilitas wisatawan di daerah tersebut.
SuaraSulsel.id - Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sulsel Didi L Manaba mengatakan tingginya harga tiket pesawat yang memicu penurunan kunjungan wisata telah menekan sektor pariwisata di Sulawesi Selatan.
"Kenaikan harga tiket pesawat dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi dampak terhadap sektor pariwisata di Sulsel, kata Didik di Makassar, Minggu (24/5).
Dia mengatakan, pengurangan kunjungan wisata itu kenaikan harga tiket pesawat membuat minat perjalanan wisata menurun, khususnya wisatawan domestik yang mengandalkan transportasi udara menuju berbagai destinasi di Sulsel.
Hal tersebut sebagai imbas dari pengurangan frekuensi penerbangan dari sejumlah maskapai.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha perjalanan wisata, tetapi juga sektor perhotelan, restoran, hingga pelaku UMKM yang bergantung pada kunjungan wisatawan.
Menurut Didik, pelaku industri pariwisata menilai biaya operasional penerbangan meningkat akibat mahalnya komponen impor dan bahan bakar yang dipengaruhi pelemahan rupiah.
Akibatnya, harga tiket pesawat ikut melonjak dan memengaruhi daya beli masyarakat untuk bepergian.
Selain itu, lanjut dia, penurunan jumlah penerbangan berpotensi menekan lama tinggal wisatawan di Sulsel.
Jika kondisi ini berlangsung lama, maka tingkat okupansi hotel dan kunjungan ke destinasi wisata dikhawatirkan ikut menurun.
Baca Juga: Pertarungan Senior vs Muda di Golkar Sulsel: Siapa yang Akan Direstui Bahlil?
Sementara itu Wakil Ketua Umum Kadin Sulsel, Satriya Madjid mengatakan pelemahan rupiah saat ini mulai menekan berbagai sektor usaha, termasuk pariwisata dan perhotelan yang sangat bergantung pada mobilitas udara.
Menurut dia, di tengah tekanan tersebut pelaku usaha berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi serta memberi dukungan terhadap sektor pariwisata melalui kebijakan yang mendorong konektivitas penerbangan dan penguatan wisata domestik.
Sejumlah pelaku industri juga mendorong promosi destinasi wisata lokal agar masyarakat tetap memilih berwisata di dalam negeri meski kondisi ekonomi global masih belum stabil.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Ahli Waris Tagih Ganti Rugi Lahan Stadion Sudiang, Pemprov Sulsel : Sudah Bersertifikat dan Clear
-
Status Waspada! Gunung Karangetang Terus Muntahkan Lava Sejauh 1.000 Meter
-
Kemarau Panjang, 1.400 Hektare Lahan Pertanian di Parigi Moutong Terancam Gagal Panen
-
Enrekang Paling Parah! Ini Fakta-fakta 112 Kasus Karhutla Ludeskan Hutan Sulawesi Selatan
-
Direktur Perusahaan Buronan Korupsi Bank Sulselbar Ditangkap di Jakarta