- Aksi kekerasan geng motor yang semakin brutal di Kota Makassar menyebabkan keresahan warga serta memicu korban luka serius.
- Kapolrestabes Makassar mengeluarkan ultimatum tegas berupa perintah tembak di tempat bagi pelaku yang membahayakan nyawa masyarakat umum.
- Pengamat menilai aksi kriminalitas ini dipicu masalah sosial ekonomi, sehingga penegakan hukum perlu dibarengi dengan solusi akar permasalahan.
Selain itu, aksi penyerangan juga terekam CCTV di depan minimarket dekat SD Pongtiku, Kecamatan Bontoala, pada 1 Mei 2026 sekitar pukul 02.02 Wita.
Rekaman yang viral di media sosial memperlihatkan tiga remaja diserang dari belakang saat berboncengan motor.
Salah satu korban mengalami luka tebas di kepala dan harus mendapat 10 jahitan. Sementara korban lainnya yang sudah terjatuh ke jalan disebut kembali ditabrak oleh pelaku.
Di kawasan yang sama, kelompok geng motor juga dilaporkan merusak kendaraan warga di Jalan Langgau. Salah satu pelaku bahkan disebut membawa pistol saat beraksi.
Data kepolisian mencatat aksi serupa terus terjadi sejak April 2026, mulai dari pembusuran di Jalan Emmy Saelan, penyerangan di AP Pettarani dan Sungai Saddang, hingga penyerangan terhadap anggota polisi patroli di Rappocini dan Asrama Polisi Tello.
Sosiolog Idham Irwansyah menilai fenomena geng motor tidak bisa dilihat semata sebagai persoalan kriminalitas. Menurutnya, ada persoalan sosial dan ekonomi yang ikut mendorong kemunculan kelompok tersebut.
“Geng motor dan praktik premanisme seringkali berkaitan erat dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat,” ujar Idham.
Ia menjelaskan meningkatnya pengangguran dan ketidakpastian kerja membuat sebagian anak muda kehilangan ruang hidup dan masa depan, terutama mereka yang kesulitan mengakses pekerjaan formal.
Dalam kondisi itu, geng motor disebut menjadi ruang alternatif untuk membangun solidaritas, identitas, hingga rasa aman bagi sebagian remaja yang merasa terpinggirkan.
Baca Juga: Makassar Darurat Geng Motor, Kapolres: Jangan Biarkan Anak Keluar Malam
“Kelompok seperti ini menjadi tempat membangun solidaritas, identitas, sekaligus rasa aman bagi mereka,” katanya.
Namun, menurut Idham, solidaritas tersebut kemudian berkembang menjadi perilaku negatif seperti intimidasi, pemalakan, hingga kekerasan jalanan.
Ia menilai penegakan hukum tetap penting untuk menjaga keamanan publik dan memberi efek jera. Akan tetapi, pendekatan represif dinilai tidak cukup apabila akar persoalan sosial tidak diselesaikan secara bersamaan.
“Perlu dibarengi penyelesaian akar masalah seperti pengangguran dan ketidakpastian kerja,” ujarnya.
Idham menambahkan penyelamatan generasi muda perlu dilakukan melalui pembukaan lapangan kerja, pendidikan keterampilan, penguatan komunitas, hingga memperkuat peran keluarga dalam pengawasan anak.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Waspadai Tanda-tanda yang Mengarah pada Masalah Katup Jantung
-
60 Ribu Calon Mahasiswa Lepas Kursi SNBP, Unhas Justru Catat Tren Positif
-
Daftar Lengkap Mutasi Besar-besaran di Polda Sulut
-
10 Koperasi Merah Putih di Kolaka Ingin Putus Rantai Tengkulak
-
Prabowo Tegaskan Peran Vital Petani-Nelayan, Kawasan Produktif Transmigrasi Siap Diperkuat