- Jumaria, buruh tani asal Kabupaten Maros, menjadi ikon global program haji internasional Makkah Route tahun 2026.
- Ia menabung sebagian upah hariannya selama dua puluh tahun untuk mewujudkan keinginan berangkat ibadah haji.
- Kisah kegigihan Jumaria diangkat sebagai simbol inspiratif dalam layanan jalur cepat keimigrasian haji bagi jemaah.
SuaraSulsel.id - Tak banyak orang menyangka perempuan renta yang hidup sendiri di rumah sederhana di pelosok Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros itu kini menjadi wajah dari program internasional Makkah Route 2026.
Jumaria (70) namanya. Seorang buruh tani yang selama puluhan tahun menabung dari upah panen Rp100 ribu akhirnya berangkat ke Tanah Suci.
Kisah hidupnya diangkat menjadi ikon global perjalanan haji Indonesia tahun ini.
Sehari-hari, Jumaria bekerja sebagai buruh tani menggarap sawah milik orang lain dengan upah tak seberapa. Namun, dari tangan renta itulah, lahir kisah yang kini dikenal hingga tingkat internasional.
Setiap musim panen, Jumaria menerima upah sekitar Rp200 ribu dari sawah yang digarapnya.
Separuh digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Separuh lainnya disimpan untuk ongkos haji.
"Kalau panen dia dapat sekitar Rp200 ribu. Rp100 ribu dipakai belanja, Rp100 ribu lagi disimpan," ujar Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Maros, Ahmad Ihyaddin, Kamis, 7 Mei 2026.
Kata Ahmad, tak ada penghasilan tetap. Tak ada tabungan besar di bank.
Uang-uang itu hanya disimpan perlahan, bahkan kadang hanya di sela bantal atau tempat sederhana di rumahnya. Namun bagi Jumaria, sedikit demi sedikit tetap berarti selama dilakukan dengan sabar dan keyakinan.
Baca Juga: Pemkab Kolaka Sewa 6 Pesawat Wings Air 2,7 Miliar untuk Calon Haji 2026
Ia mulai menabung sejak lebih dari 20 tahun lalu. Pada 2010, tabungan itu akhirnya cukup untuk mendaftar haji.
"Setelah menunggu sekitar 15 tahun namanya resmi masuk daftar keberangkatan musim haji 2026," ucap Ahmad.
Perjalanan hidup perempuan itu memang jauh dari kata mudah.
Selama lebih dari 20 tahun terakhir, ia hidup seorang diri di rumah tua peninggalan orang tuanya.
Rumah itu menjadi saksi kesabaran dan perjuangannya selama bertahun-tahun.
Jumaria merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Saudara-saudaranya telah memiliki rumah masing-masing, sementara ia memilih tetap tinggal di rumah lama keluarga.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Buruh Tani dari Kabupaten Maros Jadi Ikon Ibadah Haji Dunia
-
Kejati Kembali Periksa Eks Pj Gubernur Sulsel Kasus Korupsi Nanas
-
BREAKING NEWS: Lokasi PSEL Makassar Tetap di Tamalanrea, Purbaya: Presiden Mau Cepat!
-
Polisi Terima Bukti Foto dan Rekaman Suara Dugaan Perselingkuhan Oknum Dosen dan P3K Bone
-
Tak Kuat Gaji PPPK, Bolehkah Pemda Berhentikan Pegawai? Ini Penjelasan Resmi BKN