- PT Pertamina menaikkan harga LPG nonsubsidi 12 kilogram di Sulawesi Selatan mulai 18 April 2026 hingga Rp250.000 per tabung.
- Pelaku usaha kecil di Makassar terpaksa menaikkan harga jual produk karena beban operasional meningkat akibat kenaikan harga gas tersebut.
- Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran pelaku usaha terhadap penurunan daya beli konsumen serta potensi peralihan penggunaan ke gas subsidi.
"Mau bagaimana. Pasti ada komplain dari pembeli kami selama ini, tapi kondisinya sekarang kan apa-apa naik," ucapnya.
Konsumsi Masih Jadi Penopang
Di tengah cerita Marsya, data makro menunjukkan gambaran yang relatif stabil. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Sulawesi Selatan sepanjang 2025 tumbuh 5,43 persen, meningkat dari 5,02 persen pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang berkontribusi lebih dari 50 persen terhadap struktur ekonomi daerah.
Kepala BPS Sulsel, Aryanto menilai kondisi tersebut menunjukkan daya beli masyarakat yang relatif terjaga.
"Ini menunjukkan daya beli masyarakat relatif stabil di tengah berbagai tekanan global," ujarnya, Senin, 20 April 2026.
Namun, stabilitas itu tidak berarti tanpa tekanan. Kenaikan harga energi, termasuk LPG berpotensi menggerus kemampuan konsumsi, terutama bagi pelaku usaha kecil dan rumah tangga.
Beban Bagi Pelaku Usaha
Hal serupa dirasakan pelaku usaha Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Makassar.
Baca Juga: Wagub Sulsel Dorong Perempuan Parepare Jadi Motor UMKM dan Ketahanan Keluarga
Dalam operasional sehari-hari, mereka menggunakan hingga delapan tabung LPG 12 kilogram untuk satu dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).
"Kenaikan sekitar Rp30 ribu per tabung itu sangat terasa. Apalagi kami yang pakai sampai delapan (tabung) untuk satu SPPG," kata JN yang minta namanya diinisialkan.
Ia mengaku kini harus menghitung ulang seluruh komponen usaha.
Situasi diperparah oleh ketidakpastian lain, seperti isu efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berpotensi mengurangi jumlah penerima manfaat.
"Kami sekarang di SPPG juga jujur khawatir. Karena sekarang ini info beredar nanti siswa (penerima MBG) yang kurang mampu saja. Jadi tentu ke depan pengaruh ke produksi termasuk pekerja," keluhnya.
Antisipasi dan Kekhawatiran
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- 5 Sabun Mandi Vitamin C Terbaik untuk Mencerahkan Kulit Belang, Lengkap dengan Review Pengguna
- Daftar Shio yang Paling Tidak Cocok dengan Shio Macan dalam Bisnis dan Asmara
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Gubernur Sulsel Telepon Langsung Pemilik SPBU
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
Bawa Bubur Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bangun Usaha Bersama Dukungan BRI
-
Antrean BBM Makin Panjang, Wali Kota Makassar Datangi Pertamina: Tolong Cari Jalan Keluar!
-
Antrean Panjang BBM di Bone Picu Keributan: Adu Jotos, Ada yang Bawa Badik
-
Antre 7 Jam Demi Pertalite, Ojol di Makassar: Kami Butuh, Bukan Panic Buying
-
Kurangi Dampak Mobilitas, Gubernur Sulsel Berlakukan Sekolah Daring