Muhammad Yunus
Jum'at, 06 Maret 2026 | 17:22 WIB
Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Fahri Hamzah berkunjung ke Kantor Gubernur Sulawesi Selatan di Makassar, Jumat, 6 Maret 2026 [SuaraSulsel.id/ Lorensia Clara]
Baca 10 detik
  • Wamen PKP Fahri Hamzah mendorong gerakan Indonesia ASRI di Makassar untuk permukiman aman, sehat, resik, dan indah.
  • Fokus utama program ini meliputi peningkatan keamanan lingkungan, perbaikan sanitasi, dan penghentian praktik buang air besar sembarangan.
  • Kementerian PKP mengalokasikan dana besar untuk renovasi rumah, sambil menghormati kearifan lokal serta menyiapkan pasar hunian sewa terjangkau.

SuaraSulsel.id - Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Fahri Hamzah mendorong penerapan gerakan Indonesia ASRI di berbagai daerah, termasuk di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Program tersebut merupakan gagasan Presiden RI Prabowo Subianto untuk menciptakan lingkungan permukiman yang aman, sehat, resik, dan indah.

Hal itu disampaikan Fahri saat berkunjung ke Kantor Gubernur Sulawesi Selatan di Makassar, Jumat, 6 Maret 2026.

Menurut Fahri, konsep Indonesia ASRI bukan sekadar slogan, melainkan panduan pembangunan lingkungan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari keamanan, kesehatan, hingga kualitas hunian.

"Aman artinya kita menghidupkan kembali siskamling, gotong royong, dan partisipasi masyarakat untuk menjaga lingkungan. Itu budaya lama yang harus kita hidupkan lagi," kata Fahri.

Selain keamanan, aspek kesehatan juga menjadi perhatian penting.

Pemerintah mendorong perbaikan sistem sanitasi, pengelolaan sampah, serta saluran drainase di kawasan permukiman.

"Sehat artinya kita memperbaiki selokan, sanitasi, dan manajemen sampah. Itu arahan langsung dari Bapak Presiden," ujarnya.

Fahri menekankan pentingnya lingkungan yang bersih atau resik. Ia mengatakan, kondisi lingkungan yang bersih harus dimulai dari rumah tangga, termasuk memastikan setiap keluarga memiliki akses terhadap sanitasi yang layak.

Baca Juga: Jusuf Kalla: Prabowo Siap Jadi Mediator Konflik Iran, Asalkan...

Ia bahkan menegaskan praktik buang air besar sembarangan tidak boleh lagi terjadi di masa sekarang.

"Saya mengusulkan agar sanitasi dan toilet rumah tangga benar-benar aman. Kalau bisa tidak ada lagi sanitasi yang tidak aman, apalagi orang buang air besar di tempat terbuka. Itu peradaban masa lalu yang tidak bisa lagi kita pertahankan," tegasnya.

Sanitasi yang tidak aman diketahui dapat memicu berbagai penyakit serius, seperti kolera, disentri, diare, hingga stunting. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi perekonomian.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), akses sanitasi layak di Sulawesi Selatan saat ini telah mencapai 92,24 persen. Namun, hanya sekitar 12,92 persen yang masuk kategori sanitasi aman.

Selain itu, data BPS menunjukkan hanya satu dari sepuluh rumah tangga di kawasan perkotaan yang mengelola air limbah rumah tangga secara aman, misalnya melalui penyedotan lumpur tinja secara rutin.

Penanggung jawab Program Air, Sanitasi, dan Higiene UNICEF Makassar, Wildan Setiabudi mengatakan rendahnya kualitas sanitasi masih menjadi penyebab berbagai penyakit yang mengancam keselamatan anak-anak.

Load More