- Kejari Luwu menahan lima tersangka, termasuk kader Golkar Muhammad Fauzi dan Zulkifli, kasus korupsi program irigasi P3-TGAI 2024.
- Para tersangka diduga meminta uang antara Rp31,5 juta hingga Rp35 juta kepada kelompok tani sebagai syarat bantuan irigasi.
- Penahanan lima tersangka dilakukan di Lapas Palopo selama 20 hari untuk memfasilitasi penyidikan kasus dugaan penyalahgunaan dana aspirasi DPR.
SuaraSulsel.id - Dua kader Partai Golkar yang merupakan anak buah Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Luwu.
Mereka terlibat kasus dugaan korupsi program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) tahun anggaran 2024.
Keduanya adalah mantan anggota DPR RI Fraksi Golkar, Muhammad Fauzi dan Wakil Ketua I DPRD Luwu dari Fraksi Golkar Zulkifli.
Muhammad Fauzi adalah suami dari Indah Putri Indriani, eks Bupati Luwu Utara. Selain itu, Indah saat ini juga menjabat sebagai Ketua Golkar Luwu Utara.
Bersama tiga orang lainnya, Fauzi dan Zulkfili diduga meminta sejumlah uang kepada kelompok petani sebagai syarat agar bisa mendapatkan program bantuan irigasi.
Kepala Kejaksaan Negeri Luwu, Muhandas Ulimen mengatakan total ada lima orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.
Selain Fauzi dan Zulkifli, penyidik juga menjerat tiga orang yang berperan sebagai pelaksana dan pengelola program berinisial Mulyadhie, A. Rano Amin, dan Arif Rahman.
"Berdasarkan hasil penyidikan, tim penyidik telah menemukan minimal dua alat bukti yang cukup sehingga menetapkan lima orang sebagai tersangka dalam perkara ini," kata Muhandas di Kantor Kejari Luwu, Belopa, Kamis, 5 Maret 2026.
Kasus ini berkaitan dengan pelaksanaan program P3-TGAI yang bersumber dari dana aspirasi atau pokok pikiran anggota DPR RI.
Baca Juga: Investasi Panas Bumi Rp1,5 Triliun di Luwu Utara Diduga Terafiliasi Israel, Siapa Beri Izin?
Program tersebut sejatinya diperuntukkan membantu kelompok petani meningkatkan jaringan irigasi di wilayah mereka.
Namun, dalam praktiknya para tersangka diduga menyalahgunakan kewenangan dengan meminta uang kepada kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) yang ingin mendapatkan program tersebut.
Menurut Muhandas, sejumlah ketua kelompok tani diminta menyetor uang sebagai bentuk commitment fee agar dapat diusulkan sebagai penerima bantuan irigasi.
"Setiap kelompok tani yang ingin mendapatkan program P3-TGAI diminta menyerahkan uang muka antara Rp31,5 juta hingga Rp35 juta," ujarnya.
Kelompok tani yang tidak bersedia membayar uang tersebut disebut tidak akan diusulkan untuk mendapatkan program.
Dalam konstruksi perkara yang diungkap penyidik, Muhammad Fauzi diduga berperan meminta salah satu tersangka, A. Rano Amin, untuk mencari kelompok P3A yang akan diusulkan menerima bantuan irigasi melalui program aspirasi miliknya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Foto Terakhir di KM Nurul Salsa: Kakek 80 Tahun Rela Melepas Pelampung Demi Sang Cucu
-
Hoaks atau Fakta? Surat Bupati Gowa Minta Mediasi Gubernur Sulsel
-
Mulai 1 Agustus, Makassar Tak Lagi Terima Sampah Campuran di TPA Tamangapa
-
17 Saksi Diperiksa Kejari, Siapa Otak Skandal Jual Beli Jabatan Kepsek Makassar?
-
JPMorgan Validasi Transformasi BRI, Rekomendasi BBRI Naik Jadi Overweight