Ronald Seger Prabowo
Kamis, 26 Februari 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi KKB Papua. [Tabloid Jubi/IstimewaPapua Connection,
Baca 10 detik
  • Tokoh Papua menggelar dialog kebangsaan dan deklarasi Papua Connection fokus isu keamanan dan pembangunan.
  • Inisiator mengutuk kekerasan KKB terhadap warga sipil seperti guru dan tenaga kesehatan.
  • Forum ini juga menyoroti bahaya disinformasi berbasis identitas yang mengganggu kondusivitas Papua.

SuaraSulsel.id - Di tengah tantangan keamanan dan pembangunan di Tanah Papua, sejumlah tokoh masyarakat, akademisi, dan aktivis asal Papua menggelar dialog kebangsaan yang dirangkaikan dengan deklarasi Papua Connection.

Dialog bertajuk Merawat Kemanusiaan, Membangun Harapan di Tanah Papua ini menyoroti dampak kekerasan bersenjata yang dilakukan kelompok separatis Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap warga sipil. Guru, tenaga kesehatan, dan pekerja sipil disebut masih menjadi kelompok paling rentan di wilayah konflik.

Inisiator sekaligus deklarator Papua Connection, Charles Kossay, secara tegas mengutuk kekejaman KKB yang terus menebar teror terhadap masyarakat sipil di Papua.

"Kami mengutuk keras kekejaman KKB terhadap warga sipil. Kekerasan terhadap guru, tenaga kesehatan, dan masyarakat tidak bersenjata adalah tindakan biadab dan merupakan teror kemanusiaan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan," tegas Charles, Kamis (26/2/2026).

Ia menegaskan bahwa suara kemanusiaan tidak boleh kalah oleh kekerasan bersenjata. Menurutnya, guru dan tenaga kesehatan datang ke Papua dengan misi mulia untuk mencerdaskan dan menyelamatkan nyawa, sehingga keselamatan dan martabat mereka wajib dilindungi oleh semua pihak.

“Papua membutuhkan ketenangan, bukan teror. Pembangunan tidak akan pernah tumbuh di atas ketakutan. Karena itu, kekerasan harus dihentikan,” ujarnya.

Selain mengecam aksi KKB, forum ini juga menyoroti maraknya disinformasi dan provokasi yang dinilai memperkeruh situasi, termasuk narasi yang mengklaim mengatasnamakan elemen keagamaan tertentu di Papua.

Charles menilai hasutan berbasis identitas sangat berbahaya karena berpotensi memecah persatuan masyarakat dan mengganggu kondusivitas daerah.

“Kami mengajak masyarakat Papua untuk tidak terhasut oleh provokasi apa pun. Kedamaian dan persatuan adalah kunci agar pembangunan di Tanah Papua dapat berjalan sesuai harapan bersama,” pungkasnya.

Baca Juga: KKB Serang Pekerja Puskesmas di Kabupaten Puncak, Satu Orang Tewas

Load More