- Kementerian Keuangan meminta pemda menahan kenaikan TPP sebab belanja pegawai daerah, seperti Sulsel (40% APBD), sangat besar dan perlu dikendalikan.
- Struktur fiskal Sulsel masih sangat bergantung pada Transfer ke Daerah (TKD) sebab Pendapatan Asli Daerah (PAD) relatif stagnan dan pajak daerah terkontraksi.
- Pemda didorong memperkuat belanja modal produktif dan menyusun strategi pembiayaan terintegrasi, tidak hanya mengandalkan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa).
Kondisi ini mengindikasikan bahwa peningkatan penerimaan pajak belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain persoalan pendapatan, struktur belanja daerah juga menjadi sorotan.
Secara rata-rata di kabupaten/kota se-Sulsel, belanja pegawai merupakan komponen terbesar dengan porsi 41 persen, disusul belanja barang dan jasa 27 persen, belanja lainnya 18 persen, dan belanja modal hanya 14 persen.
Bahkan, proporsi belanja modal terus menurun dari 17 persen pada 2023 menjadi 11 persen pada 2025.
Padahal, belanja modal dinilai krusial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang melalui pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik.
"Belanja produktif perlu ditingkatkan untuk akselerasi pertumbuhan. Artinya, belanja modal harus diperkuat dan belanja operasi dikendalikan," kata Adriyanto.
Ia juga menekankan pentingnya strategi pembiayaan daerah yang lebih sistematis.
Selama ini, banyak daerah masih mengandalkan sisa lebih perhitungan anggaran (Silpa) sebagai solusi pembiayaan.
Padahal, daerah dapat menyusun dokumen perencanaan pembiayaan terintegrasi dalam RPJMD, termasuk opsi kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU), akses perbankan, maupun pinjaman daerah.
Baca Juga: TPP ASN Sulsel Dipotong, Pemprov Tegaskan Gaji Pokok dan Hak Wajib Tetap Aman
Sebagai contoh, ia menyebut Jawa Timur telah memiliki kerangka pembiayaan daerah yang terintegrasi dalam dokumen perencanaan pembangunan jangka menengah.
"Kalau APBD tidak mampu membiayai program prioritas, bisa diambil dari perencanaan pembiayaan yang sudah disiapkan. Jadi strateginya tidak hanya bergantung pada transfer pusat," ujarnya.
Dari sisi struktur ekonomi, Sulsel masih ditopang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Tantangan berikutnya adalah melakukan diversifikasi dan hilirisasi agar sektor-sektor tersebut mampu mengungkit penerimaan pajak daerah.
Di sisi lain, sektor perdagangan besar dan eceran selain mobil dan sepeda motor juga menjadi sektor dominan yang perlu dikelola secara selektif agar optimalisasi pajak tidak membebani pelaku UMKM.
Dengan ruang fiskal yang terbatas, Kemenkeu menegaskan kunci kebijakan daerah bukan pada ekspansi belanja pegawai, melainkan memastikan anggaran benar-benar berdampak pada masyarakat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Beda Usia 53 Tahun, Pernikahan Haji Buhari Dengan Anak 18 Tahun Disorot Publik
-
Pembangunan Pelabuhan di Kecamatan Tonra Bone Disetujui Pelindo
-
Ribut Main Game Online, Pelajar di Makassar Tewas Ditikam
-
Pemkot Makassar Tertibkan 167 Lapak PKL di Biringkanaya
-
Ekspansi Global BRI Holding UMi Dimulai, Pegadaian Raih Pendanaan Jepang