- Jumat, 20 Februari 2026, pejabat Makassar meninjau harga kebutuhan pokok di Pasar Terong saat Ramadan.
- Pasar Terong merupakan barometer harga nasional sejak 1960-an, menjadi simpul distribusi komoditas ke berbagai wilayah Indonesia.
- Modernisasi 1990-an menyebabkan konflik antara pedagang di dalam gedung dan di luar mengenai definisi Pasar Terong sesungguhnya.
Ekosistemnya unik. Ada palapara, pedagang yang menggelar dagangan beralas sederhana. Ada pagandeng, para pengangkut sayur yang menjadi cikal bakal tumbuhnya pasar ini.
Ada pula pamejang, papisi, pakios, pakalontong hingga palembara. Istilah-istilah lokal yang menandai ragam peran dalam denyut perdagangan tradisional.
Mereka tersebar di ruas-ruas jalan bernama Terong, Mentimun, Bayam, Labu, Kubis, dan Kangkung.
Nama-nama yang seperti menegaskan identitas pasar ini sebagai rumah bagi sayur-mayur dan bahan segar.
Pasar Terong mulai tumbuh pada 1960-an di atas lahan rawa yang semula kosong.
Para pedagang dari Kalimbu, pasar tertua kedua di Makassar, meluber ke kawasan ini karena ramainya aktivitas jual beli.
Kebakaran di kawasan Jalan Kangkung pada 1967-1968 menjadi titik balik. Pemerintah kemudian membangun pasar permanen pada 1970 dan memindahkan pedagang ke dalam bangunan yang disediakan.
Pada era 1970-an hingga 1990-an, Pasar Terong mencapai masa keemasan. Tiga nama besar, Haji Hafid, Haji Na’ga, dan Haji Sakka dikenal sebagai pemasok utama cabai dan tomat.
L. Habibie dan Anwar Jimpe Rachman dalam bukunya "Dari Jeruk Nipis Hingga Jaringan Dagang Pasar Terong" menuliskan, ketiganya dikenal sebagai "Bos Lombok" karena perannya mengendalikan distribusi dan harga cabai.
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Kota Makassar Jumat 20 Februari 2026
Dari tangan mereka, cabai dan tomat mengalir ke pedagang pengecer, lalu ke dapur-dapur rumah tangga.
Tak hanya memasok kebutuhan lokal, Pasar Terong menjadi simpul distribusi ke berbagai wilayah. Ada Kendari, Palu, Gorontalo, Manado, Maluku, Kalimantan Timur, hingga Papua dari Sorong sampai Merauke.
Bahkan sebagian Bali, NTT, NTB, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, hingga Timor Leste turut merasakan aliran komoditas dari pasar ini.
Dalam sehari, transaksi cabai dan kol saja bisa mencapai tiga kontainer yang dikirim ke berbagai kota.
Namun, Pasar Terong juga menyimpan babak-babak sulit. Modernisasi pada 1990-an yang terinspirasi gagasan penataan pasar modern melahirkan gedung berlantai empat yang dibangun oleh PT Prabu Makassar Sejati (PMS) melalui skema hak guna pakai dari Pemerintah Kota Makassar.
Relokasi besar-besaran terjadi. Banyak pedagang dipindahkan ke dalam gedung ketika bangunan rampung pada 1997.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dapat Warisan PR Karhutla, Menko Polkam Dudung Siap Terjun Langsung ke Lokasi
- 4 Rekomendasi Pelembap Viva untuk Kulit Kering, Bantu Perbaiki Skin Barrier
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
- 8 Sneakers Lokal Paling Nyaman dan Modis untuk Gaya Harian, Mulai Rp200 Ribuan
Pilihan
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
Terkini
-
Tragedi KM Virgo Transport 8: Nakhoda Hingga General Manager Diciduk Polisi
-
Bisnis Skincare Abal-Abal di Gowa Raup Rp100 Juta Per Pekan
-
Dosen Menangis Berujung Pengeroyokan Brutal di Fakultas Teknik Untad
-
Skandal Kredit Macet Bank Sulselbar, Negara Rugi Rp32 Miliar
-
Atlet Sulsel Raih Medali di Asian Games Aichi-Nagoya 2026