- Inflasi tahunan Sulawesi Selatan awal 2026 mencapai 4,11% dan dibahas serius dalam rapat TPID pada 13 Februari 2026.
- Penyebab utama inflasi adalah kenaikan harga emas serta komoditas perikanan akibat cuaca, bukan semata bahan pokok.
- BI dan Pemprov mendorong penguatan strategi 4K dan koordinasi antar kabupaten/kota untuk menstabilkan pasokan dan harga distribusi.
SuaraSulsel.id - Angka inflasi Sulawesi Selatan pada awal tahun 2026 menunjukkan sinyal yang perlu diwaspadai.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year) Sulsel telah menyentuh 4,11 persen.
Angka tersebut dinilai cukup tinggi dan menjadi perhatian serius dalam rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang digelar di Kantor Gubernur Sulsel, Jumat, 13 Februari 2026.
Beberapa kabupaten/kota bahkan mencatatkan angka yang lebih tinggi dari rata-rata provinsi.
Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulsel mengingatkan daerah-daerah seperti Sidrap, Wajo, Parepare, Makassar, Luwu Timur, Palopo, dan Bone agar mewaspadai lonjakan harga.
Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) menjadi sorotan karena inflasinya menembus 5,63 persen, jauh di atas angka nasional.
Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda menyebut inflasi awal tahun ini memang lebih tinggi dari standar yang diharapkan.
Secara bulanan (month to month), angka inflasi idealnya berada di bawah 0,29 persen. Namun saat ini, kenaikannya sudah melampaui 5 persen.
"Inflasi awal tahun ini sudah harus diwaspadai. Ada peningkatan permintaan, dan pedagang pasti menyesuaikan harga. Ini perlu diantisipasi oleh pemerintah daerah," ujarnya.
Baca Juga: Tim SAR Temukan Dompet hingga Pelampung di Jalur Ekstrem, Medan Curam Jadi Tantangan Berat
Menariknya, pemicu utama inflasi kali ini bukan semata bahan pokok seperti beras atau minyak goreng, melainkan harga emas yang terus merangkak naik.
Di Sulsel, emas tercatat menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kontribusi sekitar 8,16 persen. Selain itu, komoditas ikan segar seperti ikan layang (8,24 persen), cakalang (7,67 persen), dan bandeng juga ikut mendorong kenaikan harga terutama akibat cuaca buruk yang memengaruhi pasokan.
Rizki menekankan pentingnya penguatan strategi 4K dalam pengendalian inflasi, yakni ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, dan komunikasi efektif.
Ia mendorong pemerintah daerah memperbanyak Gerakan Pasar Murah untuk menyeimbangkan lonjakan permintaan.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya perencanaan tanam dan panen yang terkoordinasi.
"Biasanya cabai naik menjelang Lebaran. Mestinya tiga bulan sebelumnya sudah ditanam, bahkan di pekarangan rumah. Jadi saat hari keagamaan tiba, sudah bisa dipetik hasilnya," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Menyakitkan Para Pencari Kerja, Guru Besar UGM: Perbuatan Gibran Tercela, Harus Diselesaikan
- Sabun Kojie San untuk Wajah atau Badan? Simak Kegunaan dan Kandungannya
Pilihan
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
Terkini
-
Keluarga Korban Geng Motor di Makassar Murka, Sebut Pernyataan Polrestabes 'Piti Kana-kanae'
-
Gubernur Sulsel Singgung Kualitas Udara Makassar, Diprediksi Makin Buruk
-
Skakmat Peramal 'Indonesia Kolaps', Prabowo: Saya Lihat Langsung Masa Depan Indonesia Cerah
-
Kronologi 'COD' Geng Motor Warmen 27 Vs Tabe 22 di Makassar, 1 Tewas
-
Tragedi KM Virgo Transport 8: Nakhoda Hingga General Manager Diciduk Polisi