- Seorang remaja perempuan (PA, 15) di Bone, Sulsel, dianiaya sekelompok siswi MTs akibat masalah candaan setelah korban mengunci pintu karaoke.
- Penganiayaan yang viral di media sosial itu telah terjadi sebanyak tiga kali di lokasi berbeda dan kini ditangani oleh Polres Bone.
- Insiden ini menyoroti tingginya angka 17 ribu anak putus sekolah di Bone, sering disebabkan oleh faktor ekonomi dan aksesibilitas.
SuaraSulsel.id - Seorang remaja perempuan berinisial PA (15) di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok pelajar Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Korban yang diketahui telah putus sekolah sejak duduk di bangku kelas 4 SD itu diduga menjadi sasaran perundungan hanya karena persoalan bercanda.
Kasus tersebut mencuat setelah video berdurasi sekitar 30 detik viral di media sosial belakangan ini.
Dalam rekaman itu, tampak seorang remaja perempuan duduk mengenakan pakaian hitam motif putih dan, dikelilingi sejumlah remaja perempuan lain.
Salah satu pelaku yang mengenakan sweter putih terlihat menampar korban berulang kali di bagian pipi kiri dan kanan. Beberapa remaja lainnya tampak merekam dan terdengar berteriak meminta agar korban terus ditampar.
"Tampar lagi, tampar lagi. Ndak kena pipinya," ujar perekam video.
Pendamping korban dari UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Bone, Martina Majid, mengatakan korban dan para pelaku sebenarnya saling mengenal dan kerap berkumpul bersama.
"Korban dan pelaku ini berteman. Awalnya hanya persoalan bercanda," kata Martina, Kamis, 12 Februari 2026.
Ia menjelaskan, sebelum kejadian penganiayaan, korban sempat mengunci pintu ruang karaoke keluarga tempat para pelaku berada.
Baca Juga: Tak Ada Nasi di Rumah, Bocah 8 Tahun di Kendari Tewas Saat Jual Tisu di Jalan
Aksi itu disebut hanya iseng. Korban sendiri diketahui sempat bekerja di tempat karaoke setelah putus sekolah karena faktor ekonomi.
"Korban mengaku salah karena sempat bercanda. Dia pernah kerja di tempat karaoke. Dia hanya iseng mengunci pintu, karena memang temannya sendiri yang ada di dalam. Tidak ada niat lain," ujar Martina.
Namun, tindakan tersebut rupanya membuat para pelaku tersinggung. Emosi yang muncul kemudian berujung pada aksi perundungan.
Martina mengungkapkan penganiayaan terhadap PA tidak hanya terjadi sekali. Korban sudah tiga kali dirundung oleh para pelaku.
"Sudah tiga kali korban diperlakukan seperti itu. Pertama di rumah korban, kemudian dua kali di belakang sekolah pelaku. Jumlah pelakunya kurang lebih 10 orang, anak SMP sederajat (MTs)," jelasnya.
Menurut Martina korban tidak berani melawan karena jumlah pelaku lebih banyak. Ia memilih diam meski mengalami kekerasan fisik dan tekanan mental.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Gubernur Kaltara Minta Mahasiswa di Perantauan Saling Jaga Usai Kasus Kekerasan Seksual di Makassar
-
Angkasa Pura Jelaskan Mengapa Penumpang Bawa Sabu Bisa Lolos di Bandara
-
Ingin Rasakan Tempat Tenang di Makassar? Coba Kunjungi 11 Perpustakaan Ini
-
Apa Itu Pendidikan Berbasis Kasih Sayang? Untuk Melahirkan Generasi Berkarakter
-
Rahasia di Balik Lezatnya Masakan Indonesia untuk Jamaah Haji