Budi Arista Romadhoni
Senin, 02 Februari 2026 | 12:07 WIB
Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono pada pelatihan AI Tools for Journalists di Makassar, Senin, 2 Februari 2026. [Suara.com/Lorinsia]
Baca 10 detik
  • Pemimpin Redaksi Suara.com menyatakan kunjungan website media turun drastis akibat pergeseran audiens ke medsos dan AI Overview.
  • Penurunan signifikan terjadi karena Generasi Z memilih ringkasan AI dan media sosial dibanding mengklik tautan berita daring.
  • Pelatihan AI Tools for Journalists digelar di Makassar pada Februari 2026 untuk meningkatkan adaptasi jurnalis terhadap teknologi baru.

SuaraSulsel.id - Perubahan lanskap media digital yang kian cepat memaksa industri pers untuk beradaptasi. Media berbasis website yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung distribusi berita, kini menghadapi tantangan serius seiring pergeseran perilaku audiens terutama generasi muda yang semakin meninggalkan website dan beralih ke media sosial serta platform berbasis kecerdasan buatan.

Hal tersebut diungkapkan Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono pada pelatihan AI Tools for Journalists di Makassar, Senin, 2 Februari 2026.

Suwarjono menyebut kondisi ini sebagai masa yang berat bagi media daring.

Ia mengakui grafik kunjungan website media nasional mengalami penurunan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

"Ini masa yang berat bagi teman-teman media yang selama ini mengelola platform berbasis website. Hampir semua grafik media nasional turun sampai 40 persen dalam dua bulan terakhir, Desember hingga Januari," kata Suwarjono.

Menurutnya, ada dua faktor utama yang mendorong penurunan tersebut. Pertama, perubahan perilaku audiens, khususnya Generasi Z yang tidak lagi menjadikan website sebagai sumber utama konsumsi informasi.

Kedua, kehadiran teknologi AI overview yang membuat pembaca cukup mendapatkan ringkasan informasi tanpa harus mengklik tautan berita.

"Sekarang orang cukup ke AI overview. Mereka tidak lagi klik website media. Selesai," ujarnya.

Suwarjono menjelaskan Generasi Z yang jumlahnya mencapai sekitar 27,94 persen dari total penduduk Indonesia menjadi aktor utama dalam perubahan ini. Lahir dan tumbuh di era digital, generasi ini nyaris tidak memiliki keterikatan dengan media konvensional maupun website berita.

Baca Juga: Kaesang Tiba di Makassar, Siap Sulap Sulawesi Jadi Kandang Gajah

"Kalau ke kampus-kampus, apakah mereka masih baca website? Apalagi koran. Televisi juga sudah tidak. Bahkan YouTube, data pengguna Gen Z itu di bawah 10 persen. Mereka sangat media sosial," katanya.

Peserta pelatihan AI Tools for Journalists di Makassar, Senin, 2 Februari 2026. [Suara.com/Lorinsia]

Perilaku ini, lanjut Suwarjono, berimbas langsung pada perubahan model bisnis media. Dalam berbagai pertemuan dengan BUMN, perbankan, hingga perusahaan swasta, pertanyaan yang muncul hampir selalu berkisar pada performa media sosial.

"Mereka bertanya (followers) IG-nya berapa, TikTok-nya berapa, bagaimana engagement-nya. Tidak ada lagi yang tanya grafik website," ucapnya.

Situasi tersebut mendorong media, termasuk Suara.com untuk mengubah strategi. Suwarjono menekankan pentingnya media, terutama jurnalis untuk lebih serius menggarap konten di Instagram dan TikTok sebagai kanal utama distribusi berita.

"Permintaan di media sosial ini sangat besar. Kita harus masuk ke sana kalau tidak mau tertinggal," katanya.

Meski demikian, Suwarjono menegaskan bahwa ancaman terbesar bagi jurnalisme bukanlah kecerdasan buatan. Menurutnya, AI justru bisa menjadi alat bantu yang memperkuat kerja jurnalistik, selama insan pers mau belajar dan beradaptasi.

Load More