- Prof. Morten P. Meldal, peraih Nobel Kimia 2022, memberi kuliah umum di Unhas pada 29 Januari 2026.
- Morten menekankan kimia sebagai kunci masa depan berkelanjutan dan pentingnya kebebasan berpikir dalam riset inovatif.
- Prof. Meldal mendorong kolaborasi memanfaatkan SDA Indonesia, disambut komitmen Unhas memperkuat riset melalui TRG.
SuaraSulsel.id - Bagaimana jika cara kita memandang dunia ditentukan oleh molekul-molekul di sekitar kita?
Pertanyaan filosofis sekaligus saintifik ini menjadi inti dari kuliah umum inspiratif yang dibawakan oleh Prof. Morten P. Meldal, peraih Nobel Prize in Chemistry 2022, di Universitas Hasanuddin (Unhas), Kamis (29/01/2026).
Di hadapan hampir dua ribu peserta yang memadati aula—mulai dari akademisi hingga siswa SMA.
Prof. Meldal membawa pesan kuat, kimia bukan sekadar rumus di atas kertas. Melainkan kunci utama menuju masa depan bumi yang berkelanjutan.
Bukan Sekadar Teori, Tapi Cara Pandang Dunia
Dalam kuliah bertajuk “Chemistry for a Sustainable World: Everything Is Chemistry and How That Influences Our Choices,”
Prof. Meldal menekankan bahwa pemahaman mendalam terhadap kimia dapat mengubah cara manusia mengambil keputusan.
"Apa yang kita tulis dan teliti mencerminkan cara kita memandang dunia, bukan sekadar kumpulan teori," ujar ilmuwan asal University of Copenhagen tersebut.
Ia mengingatkan para calon ilmuwan muda. Bahwa riset yang hebat tidak lahir dari paksaan, melainkan dari kebebasan berpikir dan rasa ingin tahu yang tinggi.
Baca Juga: Ini 87 Program Studi Unhas dan Daya Tampung SNBP dan SNBT 2026
Menurutnya, inovasi yang mampu menyejahterakan masyarakat hanya bisa muncul dari pikiran yang merdeka dan tindakan yang didasari rasa suka terhadap ilmu pengetahuan.
Indonesia Raksasa Sumber Daya Alam untuk Riset Dunia
Tak berhenti di kuliah umum, Prof. Meldal dalam dialog strategis bersama Thematic Research Group (TRG) Unhas, menyoroti kekayaan sumber daya alam Indonesia yang luar biasa.
Sebagai modal utama untuk riset kelas dunia.
Ia mendorong peneliti Unhas untuk tidak bekerja dalam isolasi.
"Penelitian harus mampu menghadirkan solusi nyata, dan itu hanya dapat dicapai melalui kolaborasi," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Mau Gratiskan Pendidikan SD hingga Universitas Negeri, Dananya dari Uang Korupsi
- Viral Foto Duduk Bareng, Terungkap 6 Momen Kedekatan Gubernur Sherly dan Ahmad Luthfi
- Keluarga Masuk Daftar Ahli Waris Sengketa Lahan Sriwedari, Wali Kota Solo Respati Ambil Sikap Tegas!
- Sinopsis Revenge, Drama China Terbaru Lu Yu Xiao dan Zhang Ling He di WeTV
- Gegara Ayam Gongso, 413 Siswa dan Guru SMKN 2 Jogja Diduga Keracunan MBG
Pilihan
-
Emil Audero dan 5 Pemain Tinggalkan Rayo Vallecano
-
WNI 18 Tahun Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Ada Barbuk 25 Kg Sabu dan Heroin
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
Terkini
-
6 Masalah Tarik Tunai Konvensional yang Bikin Orang Beralih ke Dompet Digital
-
Cekcok soal Parkir Rp10 Ribu, Ojol Ditikam Jukir di Samping Mal Ratu Indah
-
Gubernur Sulsel Serahkan Bantuan Pompa Ponton Atasi Kekeringan di Musim Tanam Sela
-
Borong Dua Penghargaan Kemendagri, Gubernur Sulsel Bawa Pulang Insentif Miliaran Rupiah
-
JATAM Gugat Gubernur, Kapolda, dan Bupati Parigi Moutong Terkait Tambang Emas