- Ponsel kopilot ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung menunjukkan 13.647 langkah yang ternyata data lama dari Yogyakarta.
- Kepala Basarnas mengklarifikasi bahwa data langkah tersebut baru tersinkronisasi saat ponsel diaktifkan kembali oleh tim SAR.
- Keluarga korban telah memahami bahwa data pergerakan tersebut adalah notifikasi data lama, bukan pergerakan pasca-kecelakaan.
SuaraSulsel.id - Beredar informasi di media sosial dan pemberitaan mengenai ditemukannya ponsel iPhone milik kopilot pesawat ATR 42-500, Muhammad Farhan Gunawan, yang jatuh di Gunung Bulusaraung.
Narasi yang berkembang menyebutkan bahwa smartwatch yang terhubung dengan ponsel tersebut mencatat aktivitas pergerakan sebanyak 13.647 langkah pada tanggal 18 Januari 2026 (pasca-kecelakaan).
Hal ini memicu spekulasi dan harapan keluarga bahwa korban masih hidup dan melakukan pergerakan di lokasi kejadian.
HASIL VERIFIKASI:
Berdasarkan klarifikasi resmi dari otoritas terkait, narasi tersebut adalah SALAH (MISLEADING).
Berikut adalah fakta-fakta yang dihimpun:
1. Penjelasan Kepala Basarnas
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, dalam rapat bersama Komisi V DPR RI pada Selasa (20/1/2026), menegaskan bahwa rekaman langkah kaki tersebut bukanlah aktivitas saat ini atau setelah pesawat kecelakaan.
"Kami dibantu oleh Polda Sulawesi Selatan dan Tim Siber. Setelah dikonfirmasi, ternyata itu adalah rekaman beberapa bulan yang lalu pada saat yang bersangkutan jalan-jalan di Yogyakarta," ujar Syafii.
Baca Juga: Korban Pertama Pesawat ATR 42-500 Berhasil Dievakuasi dari Puncak Gunung
2. Sinkronisasi Data yang Tertunda
Data langkah kaki yang muncul saat ponsel diaktifkan kembali oleh tim SAR merupakan data lama yang baru tersinkronisasi atau muncul kembali.
Sebagai notifikasi saat perangkat terhubung ke jaringan. Sehingga menimbulkan persepsi seolah-olah aktivitas tersebut terjadi di hari penemuan.
3. Kondisi Medan yang Ekstrem
Lokasi jatuhnya pesawat berada di medan ekstrem dengan tebing curam sedalam 500 meter dan ketinggian 1.200 mdpl.
Secara teknis, pergerakan manusia sebanyak 13.000 langkah di medan seberat itu dalam kondisi pasca-kecelakaan sangat kecil kemungkinannya tanpa bantuan alat khusus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
2 Kasus Kekerasan Seksual Difabel di Sulsel, Polisi Didesak Bertindak
-
Disabilitas di Bawah Umur Hamil 7 Bulan di Maros, Pelaku 7 Kakek-kakek Belum Ditangkap
-
Polisi Hutan Tewas Tertimpa Pohon Saat Padamkan Karhutla Toraja Utara
-
Mobil Listrik Harga Rp100 Jutaan Ada di GIIAS Makassar
-
Gubernur Sulsel: Sekolah Rakyat Buka Jalan Menuju Generasi Emas 2045