Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Yunus
Kamis, 27 Februari 2025 | 13:55 WIB
Warga Dusun Panaikang, Desa Pajukukang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan santap bersama usai menggelar Assuro Maca menyambut bulan ramadan [SuaraSulsel.id/Istimewa]

SuaraSulsel.id - Masyarakat Bugis Makassar dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan tradisi leluhur.

Termasuk juga tentang tradisi menyambut bulan puasa yang masih tetap dilestarikan hingga saat ini. Assuro Maca namanya.

Hal ini mencerminkan warga Bugis-Makassar masih menerapkan nilai kearifan lokal dan harmonisasi antara nilai-nilai Islam dengan budaya setempat di tengah arus modernisasi.

Seperti yang dilakukan warga dusun Panaikang, Desa Pajukukang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Rabu, 26 Februari 2025. Mereka melakukan tradisi Assuro Maca tiga hari menjelang ramadan.

Baca Juga: Jemaah An-Nadzir Tetapkan 1 Ramadan Pada Jumat 28 Februari 2025

Setiap tahun, warga di dusun tersebut bergiliran menggelar Assuro Maca. Mereka berkumpul dan memasak sejumlah menu makanan untuk dinikmati bersama.

"Pokoknya sudah turun temurun begitu tiap tahun menjelang bulan puasa masyarakat bergantian mengadakan Asuro Macca," ujar kepala dusun Panaikang, Usman.

Assuro berasal dari bahasa Bugis yang artinya meminta atau memohon. Sedangkan Maca berarti membaca.

Jadi Assuro Maca dapat diartikan sebagai permintaan doa keselamatan dan syukuran dari seseorang kepada orang lain yang dianggap punya ilmu agama yang dalam, dihormati dan rajin menjalankan syariat.

Usman mengatakan menu yang disajikan adalah hasil alam dari warga sekitar. Seperti nasi ketan, ikan, ayam, udang, cumi atau kepiting.

Baca Juga: Ini Lokasi Baru Rukyatul Hilal Awal Ramadan 1446 H di Sulsel

Ada juga pisang yang diberi lilin merah. Setelahnya, makanan tersebut akan didoakan oleh imam masjid, lalu dinikmati bersama.

Menurut Usman, Assuro Maca sering dijadikan momentum untuk mengirimkan dan meminta doa bagi pendahulu atau kerabat yang telah meninggal dunia.

Kesempatan tersebut juga jadi momentum untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan sebelum memasuki bulan suci ramadan.

"Ini sudah tradisi turun temurun yang diwariskan dan masih kami lakukan setiap tahun," tuturnya.

Selain itu mereka juga akan melakukan ziarah makam dan membersihkan masjid.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More