Total jelajah lari Arkhan adalah 12,47 km. Ini adalah catatan terjauh yang dibuat seorang pemain dalam pertandingan Indonesia versus Ekuador itu.
Tak ada pemain Ekuador yang menyamai jelajah berlari Arkhan, padahal mereka menjadi tim yang lebih menekan dalam pertandingan Jumat malam kemarin itu.
Satu lagi pemain Indonesia yang menjadi aset penting untuk pertandingan berikutnya adalah gelandang Riski Afrisal yang beroperasi di sayap kiri serangan Indonesia.
Dari catatan FIFA itu pula, Riski yang memberikan assist untuk gol yang dicetak Arkhan, menjadi pemain yang paling sering melakukan sprint. Jumlahnya, 66 kali.
Riski berulang kali mengalahkan atau paling tidak membuat bek kanan Ekuador Jesus David Herrera keteteran, sampai memaksa duo bek tengah Davis Moreira dan Collaguoza Vaca untuk melapisnya guna menghentikan atau menutup pergerakan Riski.
Terlihat bahwa pemain-pemain Indonesia tampil kompak dan gigih. Secara tim, Indonesia memang kuat, melebih ekspektasi untuk sebuah tim debutan yang lolos karena berstatus tuan rumah.
Semua orang Indonesia pastinya berharap performa baik dalam pertandingan Ekuador berlanjut kala melawan Panama nanti.
Panama sendiri tak kalah bagus dari Ekuador, tapi mereka kalah produktif dalam mencetak gol sewaktu turnamen Piala U17 di zona masing-masing.
Dari delapan pertandingan Piala Amerika Selatan U17 2023, Ekuador mencetak 17 gol dan kemasukan 9 gol, sedangkan Panama memasukkan 10 gol dan kebobolan 7 gol dari enam pertandingan Piala Concacaf U17 pada tahun yang sama.
Baca Juga: Arab Saudi Kandidat Tunggal Tuan Rumah Piala Dunia 2034
Kualitas kedua tim tidak terlalu jauh saat menjaga pertahanan, namun Ekuador terbukti lebih produktif ketimbang Panama yang kalah 0-2 dari Maroko dalam pertandingan pertamanya di Grup A.
Uniknya, menghadapi Ekuador yang lebih produktif dari Panama, Indonesia bisa mengatasi tekanan lawan yang dalam pertandingan Jumat malam kemarin itu menciptakan 18 percobaan gol, yang enam di antaranya tepat sasaran. Indonesia sendiri membuat 6 percobaan gol yang 2 di antaranya tepat sasaran.
Fisik dan stamina menjadi faktor terbesar
Statistik penciptaan peluang kedua tim sebenarnya seimbang pada babak pertama, tapi menjadi timpang pada babak kedua. Fisik dan stamina menjadi faktor terbesar yang membuat Indonesia agak menurun pada babak kedua.
Ini mesti dipoles lagi oleh pelatih Bima Sakti demi menjaga stabilitas permainan dan kemampuan tim dalam mengatur tempo serta serangan, sehingga bisa menciptakan hasil lebih bagus.
Apalagi seperti halnya Ekuador, Panama adalah tim yang berusaha mengendalikan tempo permainan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
CCTV Polsek Ponrang Rusak Dikencingi Kucing saat Pengamanan 7 Mobil Muat BBM Diduga Ilegal
-
ESDM: Kegempaan Gunung Awu di Kepulauan Sangihe Meningkat
-
Tanya Soal Jasa Medis, Wartawan di Palu Malah Dimaki Pejabat: Mau Berteman atau Cari Masalah?
-
Sekda Sulbar Ajak Masyarakat Tidak Berlebihan Rayakan Idul Adha
-
Ahmad Sahroni: Pengendara Harley Davidson Jangan Norak!