SuaraSulsel.id - Kota Makassar memiliki bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur indah peninggalan Belanda. Salah satunya gedung Societeit de Harmonie.
Gedung tua yang terletak di jalan Riburane nomor 15 itu didirikan tahun 1896. Masyarakat sekitar mengenalnya sebagai gedung kesenian atau gedung harmoni.
Societeit De Harmonie merupakan saksi sejarah bagaimana orang Belanda menikmati seni. Dalam buku berjudul "Gedung Bersejarah di Kota Makassar" dijabarkan bangunan ini dulunya jadi tempat eksklusif bagi sosialita di zaman pemerintahan kolonial.
Aktivitas ekonomi yang sangat dinamis di Makassar pada masa kolonial menjadikan orang-orang elite Belanda berkumpul di sini. Gedung seluas 2.339 meter persegi itu juga kerap dipakai untuk menjamu tamu penting.
Di akhir pekan, gedung ini jadi tempat hiburan malam bagi para pedagang dari Belanda. Mereka menikmati pesta dan berdansa, pertunjukan musik ataupun sandiwara.
Societeit de Harmonie disebut sangat populer di Makassar pada masanya. Karena hanya orang-orang eropa dari kelas atas, pejabat, pengusaha dan priyayi yang boleh datang ke sini.
Pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942, tempat ini kemudian dipakai sebagai pertunjukan khusus seni. Societeit De Harmonie beralih fungsi menjadi tempat untuk melatih kemampuan berkesenian dari berbagai golongan termasuk Inlanders (pribumi).
Pencipta lagu Indonesia Raya W.R. Soepratman bahkan pernah berkunjung dan tampil di Societeit de Harmonie bersama kelompok jazz bernama 'Black & White'. Band ini lama-kelamaan terkenal di seluruh Makassar
Bangunan Societeit de Harmonie di Makassar hampir sama dengan gedung Societeit di Batavia, Semarang ataupun Bandung. Gedung ini memiliki desain yang mewah dengan arsitektur Eropa.
Baca Juga: Sejarah Hari Ini: Penerbangan Pertama Pesawat Santos-Dumont 14-bis
Di dalam gedung ada banyak fasilitas. Seperti lantai dansa yang luas, ruang billiard dan tempat baca. Arsitektur bangunannya juga memiliki ruangan marmer yang luas dengan tiang-tiang indah.
Setelah Indonesia dinyatakan merdeka, gedung tersebut masih jadi pusat pertunjukan kesenian. Sayangnya, seniman lokal sangat dibatasi tampil di gedung tersebut.
Pasalnya, Societeit de Harmonie dikuasai oleh golongan tertentu. Tempat itu dijadikan lokasi perkumpulan bagi orang-orang Eropa, Tionghoa dan golongan bangsawan lokal.
Gubernur Sulawesi saat itu Andi Pangerang Pettarani kemudian mengambil alih pengelolaannya dan mengizinkan semua seniman boleh berkreasi di sana.
Pemerintah telah memasukkan Societeit de Harmonie ke dalam daftar Bangunan Cagar Budaya (BCB) kategori A yang dilarang dibongkar atau diubah. Namun, hingga kini belum dikelola maksimal oleh Pemprov Sulsel.
Gedung ini sudah mengalami pergantian peruntukannya berulang kali. Pada tahun 1950, gedung ini digunakan sebagai Gedung Badan Pertemuan Masyarakat dan pada tahun 1960 menjadi Balai Budaya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Jaksa Gadungan Ditangkap di Kendari
-
Harta Karun Terpendam di Mamuju: Logam Tanah Jarang untuk Industri Masa Depan
-
Terisolir dari Akses Kesehatan, Nasib Warga Pinrang Harus Berjuang di Jalan Rusak Demi Berobat
-
Pengamat: Geng Motor di Makassar Tak Bisa Diselesaikan dengan Represi Semata
-
Makassar Darurat Geng Motor, Kapolres: Jangan Biarkan Anak Keluar Malam