Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Yunus
Jum'at, 07 Oktober 2022 | 07:40 WIB
Fans Bayern Munich membentangkan spanduk raksasa untuk mengenang tragedi Kanjuruhan saat tim kesayangannya menjamu Viktoria Plzen dalam matchday ketiga Grup C Champions League 2022-2023 di Allianz Arena, Munich, Rabu (5/10/2022). [Twitter/@eurofootcom]

Di stadion-stadion itu, termasuk yang tak begitu dikenal di Indonesia seperti Estadio do Drago di Portugal atau Stadion Salzburg di Austria, tulisan "in memory of the victims at Kanjuruhan Stadium in Indonesia" dipampang dalam papan elektronik yang bersamaan dengan versi Bahasa Indonesia-nya "Untuk mengenang para korban di Stadion Kanjuruhan di Indonesia."

Tak boleh terulang

Namun ada juga beberapa sudut yang memasang spanduk dalam nada mengkritik dan mengecam pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab di balik kematian lebih dari 100 orang itu, seperti terlihat di markas Bayern Muenchen di Allianz Arena, ketika klub Liga Jerman ini menjamu Victoria Plzen dalam pertandingan fase grup Liga Champions.

Benua gila sepak bola itu benar-benar tertuju kepada Indonesia, dalam suasana simpati, solidaritas, duka, dan juga marah mengecam kekerasan dalam olahraga, tapi berharap peristiwa itu tak terulang, apalagi di benua mereka.

Baca Juga: Punya Peranan yang Berbeda, Polri Tetapkan Enam Tersangka dalam Kasus Tragedi Kanjuruhan

Eropa pernah mengalami tragedi paling memalukan dalam sejarah sepak bolanya pada 29 Mei 1985, sebelum final Piala Eropa (kini Liga Champions) antara Liverpool dan Juventus di Stadion Heysel, Brussels, Belgia.

Akibat tragedi itu, Liverpool dilarang tampil selama enam tahun dalam kompetisi-kompetisi Eropa. Tak hanya itu, klub-klub Liga Inggris lainnya ikut terkena getah karena dilarang berkompetisi di Eropa selama sekian tahun.

Setelah tragedi itu, klub-klub Inggris memberlakukan aturan ketat guna mencegah pembuat onar masuk stadion, sampai kemudian mereka membuat undang-undang Football (Disorder) Act pada 1991.

Tetapi Tragedi Kanjuruhan terjadi bukan karena bentrok antar-suporter, seperti antara pendukung Liverpool dan suporter Juventus pada 1985.

Tragedi di Malang itu terjadi karena berdesak-desakan di pintu keluar stadion, seperti umum pernah terjadi di Ghana pada 2001 dan Peru pada 1964, yang semuanya dipicu oleh tembakan gas air mata ke arah penonton, yang tadinya ditujukan untuk membubarkan massa yang marah.

Baca Juga: Kapolri Bongkar Lemahnya PT LIB Jadi Penyelenggara Kompetisi Liga 1 Hingga Berujung Tragedi Kanjuruhan

Sama dengan di Eropa, setelah tragedi ini, ada harapan dan keinginan besar bahwa iklim sepak bola Indonesia berubah menjadi jauh lebih baik, seperti wajah sepak bola Inggris dan Eropa yang berubah drastis setelah Tragedi Heysel 1985.

Load More