SuaraSulsel.id - Siti Asune setiap hari mengajar di SMA Muhammadiyah Kota Bitung. Beberapa hari ini menjadi perbincangan publik di Sulawesi Utara.
Mengutip BeritaManado.com -- jaringan Suara.com, Siti mendapat ijin khusus. Sehingga bisa melewati jalan tol dengan sepeda motor. Setiap hari dari rumah ke tempat kerja. Begitu juga sebaliknya.
“Pokoknya semenjak pembangunan tol melewati Kelurahan Kakenturan I Lingkungan II RT 9, kami kehilangan akses masuk rumah dan terisolir,” kata Siti kepada wartawan, Kamis 11 Agustus 2022.
Tidak hanya rumah miliknya, ada sekitar dua hingga tiga rumah juga terisolir. Tak ada akses akibat pembangunan jalan tol.
“Kalau rumah lain, masih ada akses alternatif. Tapi, rumahnya saya memang tidak ada selain jalan tol, karena di belakang rumah bukit dan depan jalan tol,” katanya.
Dengan kondisi itu, Siti mengaku sudah dari awal mengajukan permohonan agar rumahnya ikut dibebaskan oleh pihak tol. Namun, pihak tol menyatakan bidang tanah yang ditinggali tidak masuk dalam area pembebasan.
Permohonan itu, lanjut Siti, diajukan dua tahun sebelumnya semenjak akses yang setiap hari digunakan bersama beberapa tetangganya terkena proyek pembangunan tol.
“Bukan masalah harga sampai kami kehilakangn akses masuk rumah, tapi alasannya rumah saya tidak kena dalam rencana pembebasan. Kami sudah berapa kali melapor ke pihak tol hingga PPK pembebasan lahan, tapi jawabannya diminta untuk bersabar,” katanya.
Rawan Lakalantas
Baca Juga: DPRD Minta Pemprov Segera Tuntaskan Pembebasan Lahan Jalan Tol Jambi-Rengat
Rumah Siti sendiri tepat berada di KM 38 800 Tol Manado-Bitung atau tepatnya berada di pintu keluar Pelabuhan Petikemas Kota Bitung. Dan akses tol ini setiap hari digunakan Siti bersama keluarga jika hendak berpergian dan pulang ke rumah.
“Dulunya sempat dilarang, tapi setelah pihak tol melihat akses rumah yang hilang akibat jalan tol baru diijinkan. Katanya, boleh asalkan tidak melawan arus,” katanya.
Akibatnya, disaat hendak pulang ke rumah, Siti harus memutar hingga ke pintu masuk tol kemudian berbalik mengikuti jalur keluar hingga ke KM 38 800.
“Terus terang sangat tidak nyaman. Karena mobil yang masuk tol selalu kecepatan tinggi, apalagi di lokasi putar balik, di situ saya sangat takut saat menyeberang,” katanya.
Dirinya mengaku, setiap hari menggunakan sepeda motor di jalan tol, nyawa adalah taruhannya. Dan ia mengaku pernah terserempet mobil.
“Kami hanya minta agar proses pembebasan dilakukan secepatnya, karena setiap hari sangat rawan mengalami lakalantas. Semoga pihak tol dan pemerintah segera merealisasikan pembebasan atau menyiapkan akses yang lebih aman,” katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
-
Ledakan Dahsyat Guncang Mall AEON Dua Orang Tewas, Diduga Akibat Kebocoran Gas
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
Terkini
-
Jufri Rahman: Wastra Sulsel Terus Dikembangkan Agar Berdaya Saing
-
Direktur Utama RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Bantah Ada Penyimpangan Anggaran
-
Sekda Sulsel Dorong OPD Perkuat Pelayanan Publik Jelang Penilaian Ombudsman 2026
-
Ratusan Petani Luwu Timur Turun Gunung Tolak Penggusuran Kawasan Industri
-
Rebutan Solar Berdarah di SPBU Makassar, Kenapa Pertamina Selalu Bilang Stok Aman?