Muhammad Yunus
Senin, 06 Juni 2022 | 18:22 WIB
Presiden Soekarno.(Instagram/bungkarno_)

Dan tentu saja, salah satunya adalah pengaruh persahabatan Soekarno dengan para pastor Eropa di Ende, di masa itu, membuat Soekarno mendapat akses membaca banyak buku tentang bangsa dan kebangsaan.

Juga bagaimana mendesain sebuah bangsa dan negara yang merdeka dari imperialisme dan kolonialisme.

Kunjungan Presiden Jokowi pada 1 Juni 2022, menurut Mikhael, untuk membangkitkan memoria passionis atau kenangan akan penderitaan yang dialami Soekarno, bahwa di masa itu, saat dibuang dan diasingkan, Sang Founding Fathers tidak menyerah karena sepi dan menderita secara batin. Tetapi justru bangkit dan tegar.

Dalam relasinya dengan masyarakat Ende saat itu, dan perjumpaannya dengan para pastor pemikir di Ende di kala itu, Soekarno menemukan inspirasi-inspirasi luar biasa tentang Pancasila yang akhirnya menjadi dasar negara ini.

Presiden Soekarno membuka Pekan Olahraga Nasional pertama dibuka di Surakarta pada 1948 (Tangkapan layar akun Twitter @iradiojakarta)

Asas Ketuhanan

Ende, kota kecil di bawah perbukitan Pulau Flores. Menjadi tak terpisahkan dengan sejarah bangsa. Karena di sinilah puncak permenungan Soekarno terjadi hingga ditemukan Pancasila, yang kini menjadi dasar negara Indonesia.

Hampir semua literatur menyebut bahwa Pancasila itu lahir di Ende, buah permenungan Bung Karno saat masa pembuangannya selama empat tahun (14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938).

Selama masa pembuangan, Soekarno bergumul dalam proses kristalisasi nilai-nilai Pancasila setelah berinteraksi dengan masyarakat jelata di tempat yang dilukiskan paling terbelakang. Jika dibandingkan dengan beberapa tempat pembuangan Soekarno yang lain.

"Dalam segala hal maka Ende, di Pulau Bunga yang terpencil itu, bagiku menjadi ujung dunia. Pulau Muting, Banda atau tempat yang jelek seperti itu, ke tempat-tempat mana rakyat kita diasingkan, tidak akan lebih baik daripada ini," kata Bung Karno sebagaimana ditulis oleh Cindy Adams dalam buku "Sukarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams".

Baca Juga: Tarkam dan Revolusi Olahraga Indonesia Ala Soekarno

Ketika diasingkan di Ende oleh penjajah kolonial pada masa itu, Bung Karno menulis Ende sebagai sebuah kampung yang masih terbelakang, penduduk berjumlah 5.000 orang, bekerja sebagai petani dan nelayan.

"Ende, sebuah kampung nelayan telah dipilih sebagai penjara terbuka untukku yang ditentukan oleh Gubernur Jenderal sebagai tempat di mana aku akan menghabiskan sisa umurku. Kampung ini mempunyai penduduk sebanyak 5.000 kepala," kata Bung Karno dalam buku itu.

"Keadaan masih terbelakang. Mereka jadi nelayan, petani kelapa, petani biasa. Hingga sekarang pun kota itu masih ketinggalan. Ia baru dapat dicapai dengan jip selama delapan jam perjalanan dari kota yang terdekat. Jalan rayanya adalah sebuah jalanan yang tidak diaspal, ditebas melalui hutan," katanya lagi.

"Di musim hujan lumpurnya menjadi bungkah-bungkah. Kota yang tak memiliki tilpon, tidak punya telegrap, tidak ada listrik, tidak ada air leding. Kalau hendak mandi kau membawa sabun ke Wolo Wona, sebuah sungai dengan airnya yang dingin dan di tengah-tengahnya berbingkah-bingkah batu," demikian Bung Karno.

Cindy Adams menulis bahwa Soekarno mulai merefleksi dan bekerja sama dengan orang kecil. Sejak di Jawa, ia memang sudah diasingkan dari orang-orang terpelajar yang juga sering berkolusi dengan penjajah.

Soekarno pun berkeluh kesah, "Baiklah kini aku akan bekerja tanpa bantuan orang-orang terpelajar yang tolol itu. Aku akan mendekati rakyat jelata yang paling rendah. Rakyat-rakyat yang terlalu sederhana untuk bisa memikirkan soal politik".

Load More