SuaraSulsel.id - Pegiat Lingkungan Forum Komunitas Hijau (FKH) Sulawesi Selatan menyayangkan maraknya perburuan satwa laut khususnya penjaga ekosistem terumbu karang.
Ketua FKH Sulsel Ahmad Yusran mengatakan, perburuan ikan kakatua atau bernama latin "Parrot fish" merupakan ikan penjaga ekosistem laut yang populasinya juga mulai mengkhawatirkan.
"Penangkapan ikan secara berlebihan dan tidak ramah lingkungan dapat berakibat buruk baik bagi ekosistem laut maupun bagi kehidupan kita," ujarnya, Minggu 5 Juni 2022.
Karena itu, dia berharap ada perhatian besar dari semua kalangan masyarakat agar memperhatikan lingkungan demi melestarikan alam.
Ahmad Yusran menjelaskan, parrot fish atau ikan kakatua termasuk spesies ikan penjaga ekosistem laut. Sebagian ikan kakatua menyantap alga yang menempel pada terumbu karang.
Populasi alga yang tidak terkendali bisa menyebabkan kematian terumbu karang. Tentunya hal ini bisa membahayakan keberlangsungan ekosistem laut. Terumbu karang bisa lestari jika populasi ikan kakatua yang memakannya mencukupi.
Bahkan dia mengaku jika ikan kakatua ini banyak dijumpai di warung makan dan berakhir di atas pembakaran ikan.
"Ikan kakatua akhir-akhir ini gencar mendapat perhatian dikarenakan merupakan salah satu penghuni terumbu karang yang diyakini dapat menjaga dan mengembangkan keberadaan terumbu karang. Ikan ini sering saya dapati ada di atas pembakaran ikan dan itu sangat miris," katanya.
Menurut dia, ikan kakatua atau parrot fish merupakan kelompok besar spesies ikan laut yang menghuni perairan dangkal tropis dan subtropis di seluruh dunia.
Baca Juga: Gegara Ikan Melompat Keluar dari Air dan Masuk Tenggorokan, Pria Ini Jalani Operasi Darurat
Mereka hidup di terumbu karang, pantai karang di selat Makassar dan Teluk Bone. Biasanya ikan ini berwarna putih, hijau, atau biru dengan motif hijau yang cantik. Sementara kepalanya agak bulat mirip burung kakatua.
Sementara itu realitas menunjukkan inkonsistensi terhadap ketentuan dan pedoman yang dimiliki oleh instansi sektoral. Sehingga koordinasi justru berubah menjadi konflik antara instansi yang ada di wilayah perairan laut.
"Ego sektoral antara instansi terjadi karena instansi sektoral tertentu menganggap dirinya memiliki kekuatan lebih dari instansi sektoral yang lain," terangnya.
"Tampaknya koordinasi samasekali tidak berjalan sehingga dapat dimanfaatkan oleh pelaku illegal fishing, dan praktik pengeboman ikan dan pukat harimau," tambah Ahmad Yusran. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Sah Nikahi Amanda Rigby, Ramalan Lama Hard Gumay Tentang Asmara Andre Taulany Jadi Kenyataan?
- Kiai Sahal Gontor ke Prabowo: Saya Ngomong Agak Tidak Enak, Sorry ye...
- 5 Sneakers Empuk yang Cocok untuk Jalan Kaki, Ada Skechers hingga ASICS
- Gibran Diperkarakan di MK, Prabowo Nanti Bisa Ajukan 2 Nama Wapres ke MPR
Pilihan
-
Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban
-
Kru Kapal Rombongan Wartawan Peliput Gunung Anak Krakatau Ditemukan Meninggal
-
Tes DNA Cocok: Jenazah di Pulau Enggano Dipastikan Sukarman, ABK Kapal Rombongan Jurnalis Hilang
-
116 Orang Masih Dicari, Satu Lagi Korban KM Virgo 8 Ditemukan Nelayan
-
Siswa SD Tewas Tersedak Menu MBG, JPPI Soroti SOP Keamanan Makanan hingga Penanganan Darurat
Terkini
-
Harris Arthur Hedar Lantik 120 Pengurus Peradi Profesional di Sultra, Titip Pesan Ini
-
Lagi-lagi Antre Solar Makan Korban, Petugas SPBU di Mamuju Dibacok Sopir Truk
-
Nikmati Layanan Premium Medical Check Up Bersama BRI Private
-
BRI InFrame 2026 Ajak Jurnalis dan Masyarakat Abadikan Geliat Ekonomi Kerakyatan
-
57 Pelajar Keracunan MBG di Kendari, Kepala SPPG Minta Maaf