SuaraSulsel.id - Gejala cacar monyet meliputi demam, sakit kepala, dan ruam kulit yang muncul mulai dari wajah sampai ke seluruh tubuh.
Virus tersebut tidak begitu menular di kalangan manusia, kata otoritas kesehatan Spanyol, dan mayoritas orang yang terinfeksi sembuh dalam hitungan pekan, meski terdapat laporan kasus parah.
Empat dari kasus yang ditemukan di Inggris memperkenalkan dirinya sebagai gay, biseksual atau pria lain yang berhubungan seks dengan pria lain, kata Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA).
Menurutnya, bukti menunjukkan kemungkinan terjadi penularan di masyarakat.
Surat kabar El Pais, yang mengutip kepala kesehatan masyarakat di daerah Madrid, Elena Andradas, melansir bahwa "22 dari 23 kasus suspek dilaporkan telah berhubungan seks dengan pria lain dalam beberapa pekan belakangan."
Otoritas kesehatan DGS Portugal tidak merilis informasi apapun mengenai orientasi seksual pasien cacar monyet atau pasien suspek.
Kedua negara itu memberi peringatan kepada profesional kesehatan supaya mengidentifikasi kemungkinan kasus lainnya.
Portugal Temukan 5 Kasus
Otoritas Portugal pada Rabu (18/5/2022) mengatakan telah mengidentifikasi lima kasus infeksi cacar monyet langka dan layanan kesehatan Spanyol juga sedang menguji 23 dugaan kasus serupa setelah Inggris membuat Eropa waspada terhadap virus tersebut.
Baca Juga: Infeksi Cacar Monyet Langka Ditemukan di Portugal, Spanyol Keluarkan Peringatan Dini
Lima pasien di Portugal dari 20 kasus suspek semuanya stabil. Mereka semua laki-laki dan tinggal di daerah Lisabon dan Tagus Valley, kata otoritas kesehatan Portugal.
Otoritas kesehatan Eropa sedang memantau setiap wabah penyakit. Setelah Inggris melaporkan kasus cacar monyet pertama pada 7 Mei dan menemukan enam kasus tambahan di negara tersebut.
Spanyol mengeluarkan peringatan dini yang menyebutkan ada delapan kasus suspek yang sedang dalam pemeriksaan. Angka itu naik menjadi 23 kasus pada malam hari, kata otoritas daerah Madrid lewat pernyataan. Semua kasus masih belum terkonfirmasi.
Cacar monyet adalah infeksi virus langka yang mirip dengan cacar pada manusia, meski lebih ringan, dan pertama kali tercatat di Republik Demokratik Kongo pada 1970-an. Jumlah kasus di Afrika Barat meningkat dalam satu dekade terakhir. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- Promo Indomaret Hari Ini 1 Mei 2026, Dapatkan Produk Hemat 30 Persen
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
Anak Kuli Bangunan di Pinrang Tembus Hall of Fame NASA, Kini Diakui Dunia
-
Mengapa Banyak Anak di Sulbar Masih Enggan Kembali ke Sekolah?
-
Budaya Sinrilik Terancam Punah, Gowa Ambil Langkah Ini
-
Pesona Air Terjun Depa Gowa, Surga Tersembunyi di Kaki Pegunungan Bungaya
-
Kenapa Makassar Masuk 10 Besar Kota Toleran?