Ibu yang belum diketahui namanya mengaku sudah dua jam berada di dalam mobil karena macet. Aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa menutup hampir separuh akses di jalan Sultan Alauddin mengakibatkan macet panjang.
"Saya sudah dua jam di mobil. Perjalananku masih ke Daya. Orang salat maghrib mi. Salat maghrib," teriaknya ke pendemo yang ada di atas truk tronton.
Ia mengaku banyak masyarakat yang sengsara. Karena pendemo yang menutup jalan tersebut. Ia meminta mahasiswa menyudahi aksinya karena sudah jam salat.
"Kita mengerti apa yang kau suarakan. Tetapi begitu banyak orang yang kau sengsarakan itu. Ini waktu maghrib ini," tegasnya.
Beberapa demonstran kemudian berusaha menenangkan ibu tersebut. Mereka kemudian membubarkan diri.
"Iye, iye, selesai mi," ujar mahasiswa kepada ibu tersebut.
Beberapa netizen kemudian memuji aksi ibu tersebut. Mereka menyebutnya, emak-emak terbaik.
"Saya suka gayanya ini emak-emak. Menyuarakan aksi boleh, tapi jangan sampai merugikan orang lain. Kalau begini sudah macet, halang-halangi orang ibadah," tulis akun @Marniati Mahrum.
Sosiolog Universitas Hasanuddin Prof Tahir Kusnawi melihat gerakan yang dilakukan mahasiswa saat ini menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.
Baca Juga: Mahasiswa Makassar: Bersuara Sedikit Ditangkap
Ada kelompok masyarakat yang pro dan simpati terhadap gerakan mahasiswa karena mereka ikut merasakan masalah-masalah yang tidak menguntungkan kehidupan mereka. Akibat kebijakan pemerintah.
Kemudian ada juga warga masyarakat yang sejauh ini tidak masalah dengan berbagai situasi yang ditimbulkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah. Bahkan diantara mereka, cukup banyak yang mendukung kebijakan pemerintah.
Mereka inilah yang banyak melakukan reaksi melawan gerakan mahasiswa. Apalagi karena mereka merasa dirugikan langsung oleh kegiatan mahasiswa tersebut. Seperti kemacetan lalu lintas, perusakan fasilitas umum, kendaraan, dan sebagainya.
"Jadi di sini dibutuhkan penanganan yang bijak dari aparat keamanan. Agar konflik dua kelompok masyarakat tersebut tidak berakibat timbulnya kerusakan-kerusakan sosial ekonomi yang merugikan seluruh warga masyarakat," ujarnya.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Tak Perlu Bongkar Kitab, Muhammadiyah Bikin AI Khusus ChatHPT untuk Jawab Persoalan Agama
-
Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
Terkini
-
Barang Penumpang Sriwijaya Air Hilang di Bandara Sultan Hasanuddin
-
Warna BBM Pertalite Bening dan Gelap Beredar, Konsumen Bingung Pilih yang Mana?
-
Wapres Gibran Hadiri Peringatan 100 Tahun Injil Masuk Kalumpang
-
Proyek Stadion Sudiang Masuk Tahap Paling Krusial, Pembangunan Sudah 25 Persen
-
Unhas Latih Dosen dan Mahasiswa Gunakan AI