SuaraSulsel.id - 25 Desember merupakan hari raya keagamaan bagi umat Katolik dan Kristiani di seluruh dunia. Perayaan ini jadi momentum bagi mereka untuk berkumpul, beribadah, dan makan besar bersama keluarga.
Berbicara soal makanan, biasanya ada hidangan khas khusus yang dihidangkan. Di beberapa daerah, ada menu khusus yang identik dengan perayaan natal. Di Tana Toraja, misalnya.
Kabupaten Tana Toraja merupakan daerah yang berpenduduk mayoritas Kristen dan Katolik di Sulawesi Selatan.
Jika mendengar nama daerah ini, yang langsung timbul di benak orang pada umumnya adalah babi. Maklum, babi adalah salah satu hewan yang kerap dikonsumsi warga Toraja.
Namun, tahukah kamu, warga Toraja juga selalu menyajikan menu khas natal yang halal dan sehat loh. SuaraSulsel.id kali ini merangkum beberapa diantaranya;
1. Pa'piong Bale Bulaan
Pa'piong bagi masyarakat Toraja merupakan makanan berbahan dasar daging babi, ayam, atau ikan.
Namun, di momen natal biasanya, warga Toraja lebih memilih Pa'piong bale bulaan atau ikan mas.
Harganya yang lebih murah dibanding babi, dan ayam membuat menu ini lebih banyak dijumpai di momen-momen seperti sekarang ini.
Baca Juga: Anies Gelar Festival Natal Virtual Jakarta, Dimeriahkan Mantan Istri Ahok
Menu ini adalah ikan mas yang dicampur dengan daun mayana, kelapa sangrai dan rempah-rempah lainnya kemudian dibakar ke dalam bambu.
Masyarakat sekitar juga kerap menggunakan tunas pisang muda sebagai pengganti daun mayana.
2. Pa'lawa Manuk
Makanan khas Tana Toraja ini berbahan dasar ayam kampung muda. Tampilannya sekilas mirip dengan ayam geprek karena dihancurkan.
Bedanya ayam untuk Pa'lawa dibakar, sementara ayam geprek digoreng. Konon disebut Lawa' karena dicincang dan dicampur.
Ayam kampung muda yang dibakar tadi, dicampur dengan tunas pisang muda, kelapa sangrai, kacang tanah, cabai dan rempah-rempah lainnya yang disangrai.
Uniknya adalah jenis makanan ini tidak dimasak. Semakin pedas, maka Pa'lawa manuk akan semakin nikmat. Menu wajib banget kamu coba jika berkunjung ke Toraja.
3. Pantollo' Lendong
Bahan utamanya adalah Lendong atau belut. Pantollo lendong merupakan masakan khas Toraja dari belut dan dimasak dengan pammarasan atau rawon khas Toraja.
Sebelum dicampur kluwak hitam (pamarrasan), belut terlebih dahulu harus dibakar untuk menghilangkan bau amisnya. Lalu, ditumis dengan sedikit minyak bersama campuran rempah-rempah khas Toraja yang khas.
Pantollo lendong menjadi sajian menu wajib bagi masyarakat Toraja saat ada acara adat, baik pernikahan, upacara adat kematian, ataupun pada momen natal seperti sekarang ini.
Masakan khas berkuah ini mempunyai rasa yang lezat sehingga wajib anda coba ketika berkunjung ke Tana Toraja.
4. Dangkot Kotte'
Kuliner ini memiliki cita rasa yang yang gurih dan pedas. Sehingga memang cocok dengan lidah orang Toraja. Bahan dasar utamanya adalah daging bebek atau masyarakat Toraja menyebutnya Kotte'
Sekilas, orang kerap menyebut Dangkot sama dengan Nasu Palekko, makanan khas warga Bugis karena bentuknya yang mirip.
Namun, sebenarnya rasanya sangat berbeda jauh, walau sejumlah bahan dasar rempah yang digunakan sama.
Dangkot Kotte' dimasak dan dibumbui secara khusus. Bumbu-bumbu yang biasanya digunakan dalam memasak dangkot adalah cabe rawit, bawang merah dan putih, jahe, kunyit, merica, lengkuas, sereh, dan berbagai macam bumbu lainnya yang dapat memperkuat cita rasa.
Dangkot yang semakin pedas, rasanya juga dipastikan semakin nikmat. Tak hanya lezat, makanan ini sangat baik untuk kesehatan tubuh, seperti dapat memperkuat kekebalan tubuh dan dijadikan antioksidan.
Itu karena daging bebek yang dipakai dalam masakan ini mengandung asam amino, vitamin B-12 dan sodium, serta fosfor yang banyak diperlukan oleh tubuh.
5. Tollo' Pangi
Menu ini tak berbeda jauh dari Pantollo' Lendong tadi. Hanya bahan dasarnya saja yang berbeda.
Tollo' pangi biasanya menggunakan ikan mas. Ya, ikan mas di Toraja memang sangat muda dijumpai dengan harga yang murah, sehingga tingkat konsumsi masyarakat sekitar untuk protein hewani ini cukup tinggi.
Ikan mas juga diolah menggunakan bumbu utama berupa pamarrasan atau kluwak hitam. Pammarrasan yang diolah dari buah Pangi tadi juga dimanfaatkan lapisan kulitnya sebagai sayur. Rasanya wangi, gurih, pedas dan menyegarkan.
Namun, perlu kehati-hatian dalam mengolah sayuran ini. Sebab, pangi mengandung asam sianida dalam konsentrasi tinggi yang bisa beracun jika salah diolah.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- HP yang Awet Merek Apa? Ini 6 Rekomendasi Terbaik dengan Performa Kencang
Pilihan
-
Iran Akui Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Dunia, Umumkan Masa Berkabung 40 Hari
-
Iran Bantah Klaim AS dan Israel: Ali Khamenei Masih Hidup!
-
Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
-
Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
-
Israel Klaim Ali Khamenei Tewas, Menlu Iran: Ayatollah Masih Hidup
Terkini
-
Mekanisme dan Tata Cara Pemesanan Penukaran Uang Melalui Kas Keliling BI
-
Ustadz Das'ad Latif Bagi-Bagi Angpao Saat Tabligh Akbar di Perayaan Cap Go Meh
-
PT Grand Puri Indonesia Bantah Terlibat Dugaan Penyerobotan Tanah di Samping Hotel
-
Cap Go Meh dan Ramadan di Makassar Jadi Simbol Toleransi
-
Mars Gelontorkan Rp48 Miliar untuk Program Komunitas Kakao di Indonesia