- Asosiasi rumput laut Indonesia, Tiongkok, dan Filipina menyepakati kerja sama industri di Quanzhou pada Oktober 2026.
- Delegasi Indonesia menandatangani nota kesepahaman perdagangan karbon rumput laut Sargassum dengan perusahaan Tiongkok.
- ARLI menyoroti regulasi Uni Eropa dan Amerika Serikat yang dapat memengaruhi perdagangan internasional produk turunan.
SuaraSulsel.id - Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) bersama China Algae Industry Association (CAIA) dan Seaweed Industry Association of the Philippines (SIAP) sepakat memperkuat kerja sama pengembangan industri rumput laut, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga perdagangan internasional.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam Chairman Level Symposium of The Seaweed Association yang berlangsung pada 25–26 Oktober 2026 di International Conference Hall, Yingbing Building, Kota Quanzhou, Provinsi Fujian, China.
Kepala Bidang Organisasi dan Keanggotaan ARLI, Asdar Marsuki, mengatakan pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antarnegara produsen rumput laut, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan meningkatkan daya saing industri.
Salah satu poin yang disepakati adalah pengakuan terhadap praktik budidaya rumput laut di Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Tiongkok yang memanfaatkan metode alami, ramah lingkungan, serta berakar pada kearifan lokal.
Baca Juga:Bukan ke DPR, Masyarakat KTI Lebih Senang Salurkan Aspirasi di Media Sosial
Para peserta juga menegaskan pentingnya budidaya rumput laut sebagai penopang ketahanan ekonomi masyarakat pesisir dan penduduk pulau-pulau kecil, khususnya di Indonesia, Filipina, dan Malaysia.
Dalam aspek pencatatan produksi, ketiga asosiasi menilai data rumput laut idealnya menggunakan satuan berat kering. Pertimbangannya, rumput laut merupakan produk nabati atau berbasis tanaman, bukan produk hewani.
Perkuat Riset dan Pengembangan Industri
Kerja sama ARLI, CAIA, dan SIAP juga diarahkan pada penelitian dan pengembangan industri rumput laut tropis.
Kolaborasi ini melibatkan produsen dan pengolah rumput laut untuk mengatasi tantangan perubahan iklim di sepanjang rantai nilai, mulai dari budidaya, penanganan pascapanen, pengolahan, hingga perdagangan di kawasan ASEAN dan pasar internasional.
Baca Juga:Survei 2 Tahun Prabowo-Gibran: 69 Persen Masyarakat Sulit Dapat Kerja
Ketiga asosiasi turut sepakat menyusun strategi komprehensif untuk mengembangkan dan menjaga keberlanjutan produksi serta pengolahan rumput laut.
Strategi tersebut juga mencakup peningkatan daya saing pelaku budidaya, pengolahan, dan perdagangan, termasuk penjajakan keterlibatan industri dalam perdagangan karbon serta penguatan kemitraan dengan pelaku usaha internasional.
Saat ini, rumput laut jenis Gracilaria dan Eucheuma terutama dimanfaatkan sebagai bahan baku hidrokoloid.
Namun, pemanfaatannya terus berkembang untuk berbagai kebutuhan lain, seperti biostimulan, bioplastik, pakan ternak, dan produk kesehatan.
ARLI Soroti Regulasi Agar dan Karagenan
Dalam simposium tersebut, ARLI secara khusus mengangkat persoalan regulasi penggunaan agar-agar pada makanan hewan peliharaan di negara-negara Uni Eropa yang dikaitkan dengan kebijakan European Food Safety Authority (EFSA).