- Ketua Tim Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menyatakan dana pengadaan seaplane sudah tersedia di Makassar pada Jumat (9/10).
- Kepala Dinas Perhubungan Sulsel Andi Erwin Terwo menjelaskan pesawat amfibi berfungsi memperluas konektivitas dan membuka akses wisata kepulauan terpencil.
- Pengadaan transportasi senilai Rp17 miliar tersebut merupakan kerja sama Pemprov Sulsel dan Kemenhub untuk mempercepat distribusi serta pelayanan kesehatan.
SuaraSulsel.id - Ketua Tim Komisi VII DPR RI Evita Nursanty mengatakan dana untuk pengadaan pesawat amfibi atau seaplane sudah ada namun pencairannya memerlukan proses lebih lanjut.
"Terkait seaplane, dana sudah ada tetapi ada beberapa proses yang memang menghambat dalam pengadaan seaplane tersebut," ujar dia usai kegiatan Kunjungan Kerja dan Reses Komisi VII DPR RI di Ruang Rapim Kantor Gubernur Sulsel, Makassar, Jumat (9/10).
Ia menjelaskan bahwa Sulawesi Selatan sebagai hub Indonesia Timur tentunya memiliki banyak potensi yang perlu pengembangan lebih lanjut sesuai harapan Pemprov Sulsel di bawah kepemimpinan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman.
"Kita tahu Sulawesi Selatan ini memiliki potensi yang sangat-sangat luar biasa, terutama penggerak ekonomi Indonesia Timur. Kami sudah berdiskusi panjang lebar, sebenarnya yang menjadi kendala-kendala daripada Pemprov Sulawesi Selatan," ujar dia.
Baca Juga:Gubernur Sulsel Singgung Kualitas Udara Makassar, Diprediksi Makin Buruk
Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan Sulsel Andi Erwin Terwo mengatakan, peluncuran pesawat amfibi bisa menjadi solusi transportasi udara baru, khususnya bagi daerah-daerah kepulauan yang selama ini sulit dijangkau oleh moda transportasi konvensional.
"Salah satu tujuannya adalah membuka akses ke destinasi wisata yang sulit dijangkau, seperti daerah kepulauan,” ujar Erwin.
Ia menjelaskan, peluncuran pesawat amfibi sebagai wujud kerja sama Pemprov Sulsel dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dalam memperluas konektivitas dan pengembangan sektor pariwisata di daerah.
Demikian juga dengan adanya pesawat amfibi, pasien di pulau-pulau terpencil dapat segera dijemput, wisatawan bisa langsung menuju destinasi eksotis, dan produk kelautan dan perikanan lebih cepat tiba di pasar.
Anggaran yang disiapkan untuk program ini disebut sekitar Rp17 Miliar.
Baca Juga:Skandal Kredit Macet Bank Sulselbar, Negara Rugi Rp32 Miliar